Defisit transaksi berjalan Indonesia di kuartal pertama 2026 tercatat USD 4 miliar, setara 1,1 persen dari PDB. Angka ini melebar hampir 30 kali lipat dibandingkan triwulan I-2025 yang hanya USD 149 juta atau 0,1 persen dari PDB, sekaligus menjadi yang terbesar untuk triwulan I sejak 2016, ketika defisit kala itu mencapai USD 4,7 miliar atau 2,14 persen dari PDB.
Surplus neraca perdagangan barang amblas dari USD 13,06 miliar pada kuartal I-2025 menjadi hanya USD 7,97 miliar. Impornya naik, ekspornya lesu. Kombinasi yang tidak nyaman, terutama ketika tekanan dari luar negeri sedang tidak ramah.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut konteks globalnya jauh lebih berat ketimbang episode defisit sebelumnya. "Masalahnya, pelebaran defisit transaksi berjalan saat ini terjadi dalam kondisi global yang jauh lebih rapuh dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Dunia sedang menghadapi kombinasi perlambatan ekonomi, perang dagang, harga energi tinggi, dan ketidakpastian geopolitik akibat konflik Timur Tengah," ujarnya.
Penutupan Selat Hormuz akibat perang di Timur Tengah yang pecah Maret 2026 agaknya belum sepenuhnya tercermin dalam data kuartal pertama. Ekonom senior Indef Tauhid Ahmad mengingatkan dampak disrupsi rantai pasok global baru terasa penuh sepanjang Maret hingga Mei. "Perang di Timur Tengah terjadi pada Maret 2026 dan penutupan Selat Hormuz sangat berdampak pada rantai pasok global sepanjang Maret, April, dan Mei 2026," katanya. Pola historis juga menunjukkan defisit transaksi berjalan cenderung lebih dalam di kuartal II, III, dan IV.
Indonesia dihajar tekanan dari dua sisi sekaligus. Impor minyak dan gas berpotensi melonjak karena konflik Hormuz, anggaran subsidi energi berisiko membengkak, sementara permintaan global yang melempem menggerus kinerja ekspor. Di sisi neraca jasa, defisit memang sedikit menyusut dari USD 5,48 miliar menjadi USD 4,85 miliar, tapi jasa transportasi penumpang masih jadi sumber perdarahan terbesar akibat disrupsi penerbangan antarnegara.
Ada faktor lain yang memperkeruh. Kebijakan menjadikan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai eksportir tunggal komoditas strategis seperti batubara, sawit, dan nikel memang ditujukan untuk mencegah praktik under invoicing dan memperbesar manfaat devisa. Tapi pasar tidak semerta-merta merespons positif. "Pengumuman penguatan kontrol ekspor tersebut justru memicu kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia dan memperburuk sentimen pasar," tegas Josua. Pasar menangkap sinyal intervensi negara yang meningkat plus ketidakpastian mekanisme perdagangan, dua hal yang tidak disukai modal asing.
IMF dalam World Economic Outlook edisi April 2025 sudah memproyeksikan defisit transaksi berjalan RI melebar dari 1,5 persen PDB pada 2025 menjadi 1,6 persen pada 2026. Proyeksi itu, perlu dicermati, belum memasukkan eskalasi konflik Timur Tengah yang terjadi belakangan.
Prospek rupiah? Tidak menggembirakan. Tauhid memperkirakan rata-rata nilai tukar hingga akhir tahun berpotensi bertengger di atas Rp17.100 sampai Rp17.200 per dolar AS. Menariknya, sinyal pelemahan ini bukan datang dari dolar yang menguat tajam. Secara year-to-date, DXY hanya naik 0,52 persen. Tapi rupiah sudah terdepresiasi 6,08 persen dalam periode yang sama. Beda yang cukup jauh untuk memaksa kita bertanya: apa yang sebetulnya sedang terjadi di dalam negeri?
Dunia usaha yang bergantung pada impor bahan baku kena imbasnya langsung. Biaya produksi naik, permintaan masih lemah, margin tergerus. "Mereka akan melakukan adjustment karena permintaan masih melemah. Di tengah situasi ini, risiko terbesarnya, perusahaan-perusahaan akan menempuh efisiensi, termasuk pemutusan hubungan kerja," kata Tauhid, tanpa basa-basi.
Bank Indonesia tetap optimistis. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers 22 Mei 2026 menyatakan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia 2026 diprakirakan tetap baik, dengan defisit transaksi berjalan dalam kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen dari PDB. Proyeksi yang, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, masih akan diuji oleh tiga kuartal perkembangan geopolitik yang belum selesai.