Kontrak berjangka Crude Palm Oil di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah Selasa (12/5/2026), terseret aksi jual masif pada kontrak palm olein di bursa Dalian sepanjang sesi perdagangan Asia.
Kontrak Juli 2026, yang paling aktif diperdagangkan, anjlok 0,73% ke MYR4.483 per ton, setelah sempat menyentuh MYR4.601 di awal sesi. Koreksi serupa terjadi di seluruh lini kontrak. Kontrak Mei 2026 tergerus 44 ringgit ke MYR4.451 per ton, kontrak Juni 2026 turun 34 ringgit ke MYR4.450 per ton.
"Pasar terbebani tekanan jual pada kontrak palm olein Dalian selama sesi perdagangan Asia," ujar seorang trader berbasis di Kuala Lumpur.
Bukan sekadar sentimen. Ada data keras di baliknya.
Malaysian Palm Oil Board mengonfirmasi stok sawit Malaysia naik pada April, kenaikan pertama dalam empat bulan. Penyebabnya bukan satu faktor: produksi melonjak, ekspor menyusut, dan impor justru bertambah dalam waktu bersamaan. Bagi pasar, triple combo seperti ini sulit diabaikan.
Tekanan makin dalam setelah India, pembeli sawit terbesar di dunia, melaporkan impor April-nya amblas 27% secara bulanan ke level terendah dalam setahun. Agaknya kombinasi tekanan dari dua penjuru sekaligus, China lewat aksi jual Dalian dan India lewat penurunan impor, yang membuat harga sulit bertahan.
Koreksi tidak sepenuhnya lepas kendali. Ringgit melemah 0,31% terhadap dolar AS, yang sedikit meringankan beban bagi pembeli asing karena CPO jadi relatif lebih murah dalam denominasi dolar. Harga minyak mentah dunia yang justru melonjak, seiring memudarnya harapan gencatan senjata AS-Iran, turut menopang daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel.
Di sisi kebijakan, Malaysia mengumumkan kenaikan mandat biodiesel dari B10 menjadi B15 mulai 1 Juni 2026. Secara struktural, kebijakan ini akan mendorong penyerapan domestik sekaligus memangkas ketergantungan pada impor bahan bakar. Sinyal positif jangka menengah, kalau data permintaan bisa dipercaya. Efeknya, bagaimanapun, tidak akan terasa dalam hitungan hari.
Data ekspor awal Mei pun tidak memberikan kejelasan. Intertek Testing Services mencatat kenaikan ekspor 8,5% pada periode 1-10 Mei. AmSpec Agri Malaysia justru melaporkan penurunan 10,8% untuk rentang waktu yang sama. Dua angka yang bertolak belakang dari dua lembaga survei independen.
Di pasar global, kontrak berjangka minyak kedelai CBOT Juli sempat melonjak di atas 76 sen per pon awal Mei, menyentuh level tertinggi sejak November 2022, ditopang kekuatan sektor energi dan ekspektasi permintaan biodiesel yang menguat. Spread minyak kedelai Amerika Selatan terhadap CPO Asia yang kian melebar bisa menjadi kompetitor serius dalam perebutan porsi pasar biofuel global. Ibarat pedang bermata dua bagi produsen sawit: harga minyak mentah yang tinggi mendukung CPO, tapi di saat bersamaan ikut mengangkat daya saing minyak kedelai.
Pertanyaannya, apakah kenaikan mandat B15 Malaysia cukup untuk meredam tekanan di saat India menarik rem dan China belum menunjukkan tanda-tanda berbalik beli?