Sepanjang 2025, PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) membukukan pendapatan Rp2,69 triliun, tumbuh 12,58% secara tahunan. Cukup solid untuk menopang keputusan besar dalam RUPST Selasa (12/5/2026): membagikan dividen tunai total Rp1,39 triliun, atau setara Rp351 per saham.
Bukan angka kecil. Nominal dividen itu mencerminkan komitmen manajemen menjaga keseimbangan antara imbal hasil bagi pemegang saham dan kebutuhan pendanaan jangka panjang, meski tekanan margin mulai terasa.
Laba bersih CITA memang tergerus tipis 3,63% menjadi Rp2,40 triliun. Pelakunya bukan dari sisi operasional. Normalisasi harga jual alumina di pasar global sepanjang tahun lalu menjadi faktor penekan, faktor yang agaknya sulit dielak oleh hampir semua emiten di rantai pasok aluminium. Total aset perseroan justru melar menjadi Rp9,13 triliun, sebagian besar terkerek oleh setoran tambahan modal senilai Rp419 miliar ke PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) untuk proyek smelter aluminium yang tengah dibangun.
Pertumbuhan pendapatan sendiri ditopang perluasan basis pelanggan domestik. CITA mulai menjual bauksit ke pihak ketiga, yakni PT Borneo Alumindo Prima, sebuah langkah yang memperlebar ekosistem di luar entitas asosiasi PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW).
Menatap 2026, perseroan memasang target volume penjualan 9,10 juta Wet Metric Ton (WMT) dalam RKAB. Reaktivasi operasional Site Sandai pada akhir 2025 diproyeksikan mendongkrak kapasitas produksi secara bertahap, jadi target itu tidak datang dari langit. Direktur CITA Yusak Lumba Pardede menyebut target tersebut selaras dengan kebijakan hilirisasi nasional yang menurutnya menjadi katalis positif untuk memperluas portofolio pelanggan domestik. "Kami akan terus memperkuat posisi sebagai pemasok utama melalui peningkatan kapasitas, optimalisasi rantai pasok, serta penguatan efisiensi operasional guna menjaga resiliensi bisnis," ujar Yusak dalam keterangan tertulisnya.
Bagi investor ritel, dividen Rp351 per saham ini menarik atau tidak, tergantung di harga berapa mereka masuk. Yang lebih krusial: apakah normalisasi harga alumina global sudah menemukan lantainya? Kalau belum, tekanan di sisi harga jual bisa kembali menggigit laba lebih dalam di tahun ini.