SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  China Salip Jepang, Kini Jadi Kreditur Terbesar Ke...

Ekonomi

China Salip Jepang, Kini Jadi Kreditur Terbesar Kedua Dunia

Jepang kehilangan posisi sebagai negara kreditur terbesar kedua dunia, tersalip China yang mencatat surplus transaksi berjalan lebih besar. Jerman tetap di posisi puncak.

China Jadi Negara Kreditur Terbesar Kedua di Dunia, Salip Jepang. (Foto: Freepik)

Jepang tergeser. Negara yang selama bertahun-tahun bertengger sebagai kreditur terbesar kedua dunia itu kini harus puas di peringkat ketiga, didorong turun oleh China yang mencatat pertumbuhan posisi aset luar negeri bersih lebih agresif.

Pergeseran ini dikonfirmasi Kementerian Keuangan Jepang. Posisi Jerman dan China yang kini lebih kuat mencerminkan surplus neraca transaksi berjalan yang lebih besar, terutama ditopang kinerja perdagangan kedua negara. Jerman tetap kokoh di puncak. China menyalip Jepang untuk menempati posisi kedua.

Angka posisi kreditur bersih suatu negara secara umum mencerminkan akumulasi surplus neraca transaksi berjalan dari waktu ke waktu, semakin besar dan konsisten surplus perdagangan sebuah negara, semakin tebal pula klaim finansialnya atas dunia luar. Sederhana di atas kertas, tapi implikasinya tidak.

Jepang, ironisnya, bukan sedang anjlok. Pertumbuhan posisi aset bersihnya tetap ada, hanya kalah cepat dari dua pesaingnya. Penyebabnya justru datang dari dalam: harga saham Jepang yang menguat belakangan ini mendongkrak nilai aset yang dipegang investor asing, sehingga kewajiban Jepang ikut membesar. Ibarat pedang bermata dua, rally saham domestik yang lazimnya jadi kabar baik itu malah menggerus posisi kreditur bersih Jepang secara teknikal.

Bagi investor Indonesia yang terbiasa membaca dinamika global sebagai sinyal capital flow, pergeseran hierarki ini patut dicermati. China dengan cadangan klaim globalnya yang kian tebal bisa jadi akan makin agresif menempatkan aset di luar negeri, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Entah kebetulan atau tidak, beberapa negara di kawasan ini sudah merasakan derasnya arus portofolio dari utara.

Apakah pergeseran ini permanen, atau sekadar cermin siklus nilai tukar dan valuasi aset? Pertanyaan yang, kalau data ini bisa dipercaya, belum tentu terjawab dalam waktu dekat.