KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Cadangan Devisa RI Merosot 4 Bulan Beruntun, Lampu...

Internasional

Cadangan Devisa RI Merosot 4 Bulan Beruntun, Lampu Kuning Mulai Menyala

Cadangan devisa Indonesia menyusut ke US$146,2 miliar pada April 2026, turun sekitar US$10 miliar sejak awal tahun. Ekonom mengingatkan tren ini bukan alarm darurat, tapi bukan pula sinyal yang bisa diabaikan.

Empat bulan. Tak satu pun selamat.

Cadangan devisa Indonesia terus menipis sejak awal 2026, bukan dalam satu kejatuhan mendadak yang bikin panik, tapi konsisten, perlahan, cukup untuk membuat sebagian ekonom mulai berdehem.

Data Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa akhir April 2026 di angka US$146,2 miliar, turun US$2 miliar dari bulan sebelumnya. Dihitung dari posisi akhir 2025 yang tercatat US$156,5 miliar, total gerusan sepanjang empat bulan pertama 2026 sudah tembus sekitar US$10 miliar.

Tracknya rapi: Januari 2026 turun ke US$154,6 miliar, Februari ke US$151,9 miliar, Maret ke US$148,2 miliar, April di US$146,2 miliar. Konsisten. Tak ada bulan yang naik.

Penyebabnya berlapis. Sebagian besar mencerminkan intervensi BI di pasar valas untuk menahan laju pelemahan rupiah, sebagian dari pembayaran utang luar negeri, sisanya tekanan arus keluar musiman: pembayaran pajak dan jasa. Rupiah sendiri sudah tergerus sekitar 4,5% secara year to date, sempat menyentuh level 17.400 per dolar AS. Riset Samuel Sekuritas Indonesia menyebut ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk kedua di Asia, terbebani defisit anggaran yang kian melebar, di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, fluktuasi imbal hasil obligasi AS, dan permintaan global terhadap aset safe-haven yang terus menguat.

Bukan gelar yang ingin diukir.

Yusuf Rendy Manilet, Economic Researcher CORE Indonesia, mencoba menempatkan angka ini dalam perspektif yang lebih adil. Level US$146,2 miliar, katanya, masih zona aman: setara sekitar 5,8 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional yang lazimnya tiga bulan. "Penurunan ini sangat berkaitan dengan pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level 17.400 per dolar AS. Bank Indonesia sendiri menjelaskan salah satu penyebab turunnya cadangan devisa adalah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah," ujar Yusuf.

Lalu ia menambahkan catatan yang agaknya lebih penting dari angkanya sendiri: tanpa intervensi BI, rupiah kemungkinan amblas jauh lebih dalam. Cadangan devisa yang tergerus, kalau dibaca jujur, lebih tepat disebut biaya menjaga stabilitas ketimbang sinyal runtuhnya fundamental.

Bisa jadi framing itu benar. Tapi ada hitungan yang perlu dicermati.

Ritme penurunan sekitar US$2 miliar per bulan ini, jika berlanjut tanpa pemulihan selama beberapa kuartal, pasti memancing pertanyaan pasar soal daya tahan Indonesia. "Tren pengurangan ini tetap menjadi lampu kuning," tegas Yusuf.

Dari sisi nilai tukar, prospeknya belum cerah. Pengamat rupiah Ibrahim Assuaibi memproyeksikan kurs masih berpotensi melemah ke kisaran Rp17.320 hingga Rp17.500 per dolar AS dalam jangka pendek. Tekanan utamanya: situasi Timur Tengah, termasuk laporan terbaru soal serangan Iran terhadap kapal perang AS yang berdampak pada harga minyak global. "Permasalahannya adalah kita butuh dolar cukup banyak. Pada saat tensi geopolitik di Timur Tengah itu meningkat, harga minyak itu melemah. Sebenarnya itu permasalahannya," kata Ibrahim.

Skenario pemulihan baru terbuka kalau situasi geopolitik mereda dan permintaan dolar global melandai. Jika Selat Hormuz kembali tenang dan hubungan Iran-AS membaik, Ibrahim bilang, BI pun tak perlu menguras cadangan sebesar sekarang.

Sampai saat itu tiba, BI kemungkinan masih akan terus membakar amunisi. Dan angka US$146,2 miliar itu akan terus diintip setiap awal bulan.