SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Cadangan Devisa RI Amblas ke US$148,2 Miliar, Tagi...

Ekonomi

Cadangan Devisa RI Amblas ke US$148,2 Miliar, Tagihan Nyata Intervensi Rupiah Maret 2026

Cadangan devisa Indonesia menyusut US$3,7 miliar dalam sebulan ke posisi US$148,2 miliar per akhir Maret 2026, tergerus kombinasi pembayaran utang luar negeri dan intervensi Bank Indonesia untuk menahan pelemahan rupiah.

Tiga koma tujuh miliar dolar. Melayang dalam satu bulan. Itulah harga yang dibayar Bank Indonesia untuk menahan rupiah agar tidak jeblok lebih dalam sepanjang Maret 2026.

BI mencatat cadangan devisa per akhir Maret 2026 di angka US$148,2 miliar, turun dari posisi Februari yang masih US$151,9 miliar. Dalam rupiah, setara sekitar Rp2.521 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp17.011 per dolar AS. Susut.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut penurunan ini dipicu kombinasi beberapa faktor: pembayaran utang luar negeri pemerintah, penerbitan global bond, penerimaan pajak dan jasa, plus yang paling menyita perhatian pasar yakni kebijakan stabilisasi nilai tukar. Semuanya bergerak bersamaan, hasilnya terbaca telanjang di angka cadev.

Rupiah memang sedang tidak baik-baik saja. Pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026), kurs parkir di Rp17.105 per dolar AS. Menteri Keuangan sempat menyebut angka ini masih sesuai skenario APBN, tapi pasar agaknya tidak sepenuhnya yakin. BI pun turun tangan, aktif di spot market, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga NDF di offshore market untuk menahan laju pelemahan.

Efektif meredam volatilitas jangka pendek? Ya. Tapi tagihannya langsung terasa di posisi cadev. Ibarat pedang bermata dua.

US$148,2 miliar, klaim BI, masih aman. Angka itu setara 6,0 bulan impor, atau 5,8 bulan bila diperhitungkan bersama pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jauh melampaui standar kecukupan internasional yang dipatok sekitar tiga bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Rabu (8/4/2026).

Sampai kapan kenyamanan itu bertahan? Tekanan global belum mereda. Ketidakpastian akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan dinamika tarif Amerika Serikat masih menggantung di udara, dan modal asing bisa angkat kaki kapan saja. Entah kebetulan atau tidak, tekanan ini persis datang di momen rupiah paling rentan.

Soal aliran masuk modal asing, BI mengklaim potensi berlanjut, didukung persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi domestik dan imbal hasil yang kompetitif. Klaim yang masih perlu dibuktikan di bulan-bulan berikutnya, terutama kalau rupiah terus tertekan dan intervensi harus dipertahankan. Angka bulan depan akan bicara lebih jujur.

Koordinasi dengan pemerintah, kata bank sentral, akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas eksternal. Sinergi di atas kertas memang selalu rapi. Yang sedang diuji sekarang adalah eksekusinya, di hadapan pasar yang jelas tidak sedang sabaran.