Yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007, sinyal yang membuat banyak manajer portofolio besar mulai hitung-hitungan ulang soal posisi mereka.
Konflik AS-Israel melawan Iran, yang kini memasuki minggu ke-12, ternyata tidak cuma menekan harga minyak dan inflasi konsumen. Efek samping yang agak kurang dibicarakan: biaya utang pemerintah AS ikut melonjak. Yield US Treasury tenor 10 tahun sudah berada di 4,58%, naik dari kisaran 4% sebelum konflik pecah. Angka itu juga 0,45 poin persentase di atas proyeksi awal Congressional Budget Office (CBO), yang pada Februari memperkirakan yield 10 tahun di 4,13% sepanjang tahun ini.
Artinya, pemerintah AS kini berutang lebih mahal dari yang sudah direncanakan.
Dampaknya ke anggaran tidak bisa dianggap enteng. Jika yield 10 tahun bertahan di level ini selama sisa empat bulan tahun fiskal yang berakhir September 2026, tambahan tagihan bunga bisa mencapai sekitar US$8 miliar atau Rp141,8 triliun. Skenario yang lebih berat: jika yield tetap di posisi yang sama sepanjang tahun fiskal 2027, beban tambahannya bisa melampaui US$30 miliar. Ini di luar proyeksi dasar CBO yang sudah memperkirakan pembayaran bunga pemerintah AS akan melonjak dari US$1 triliun pada 2026 menjadi US$2,1 triliun pada 2036, setara 4,6% dari PDB.
Bill Campbell dari DoubleLine melihat sinyal yang tidak menyenangkan: kemauan politik untuk menekan defisit fiskal AS agaknya belum sekuat yang dibutuhkan pasar. Selama defisit tetap lebar, kebutuhan pemerintah untuk berutang tidak menyusut. Ketika bunga naik, lingkaran itu makin sulit diputus.
Tekanan yield juga terasa lebih konkret di lapisan bawah. Kenaikan imbal hasil jangka panjang mendorong mortgage rate, membuat biaya membeli rumah di AS semakin berat. Inflasi produsen yang melonjak ke 6% pada April, level tertinggi dalam empat tahun, memperparah kondisi. Ekspektasi inflasi satu tahun ke depan dari kalangan investor kini sudah menembus 4%.
Pertanyaannya, berapa lama pasar masih bisa sabar?
Bob Michele, CIO dan Head of Global Fixed Income di JPMorgan Asset Management, menilai kenaikan yield global ini mencerminkan keraguan investor terhadap sikap bank sentral. Pasar melihat The Fed terlalu berhati-hati karena lebih fokus pada risiko ekonomi dari kenaikan suku bunga, sementara tekanan inflasi nyata sudah di depan mata. Tiga presiden Fed bahkan secara terbuka tidak sependapat dengan bahasa kebijakan pertemuan terakhir, yang masih condong longgar meski harga minyak sudah naik sekitar 50%.
Dari sinilah bond vigilantes kembali relevan. Mereka investor yang menekan pemerintah lewat aksi jual obligasi besar-besaran ketika kebijakan fiskal atau inflasi dianggap tidak terkendali. Kalau The Fed tidak merespons, pasar obligasi yang akan memaksa biaya pinjaman naik lebih jauh. Bukan ancaman kosong.
Ada beberapa opsi yang beredar di Wall Street. Pemerintah bisa lebih banyak menerbitkan surat utang jangka sangat pendek untuk meredam tekanan yield jangka panjang. Ada pula pembicaraan soal sesuatu yang mirip Operation Twist, di mana The Fed menjual obligasi pendek sambil membeli obligasi panjang. Robert Dishner dari Neuberger Berman mengakui skema itu masih mungkin dilakukan, tapi tidak mudah. Yang lebih realistis, kata Dishner, adalah mengelola laju kenaikan yield agar tidak terlalu cepat, bukan memaksanya turun drastis.
Ben Carlson dari Ritholtz Wealth Management menangkap perdebatan lebih luas di balik tren ini: apakah kenaikan yield jangka panjang mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang lebih tinggi, inflasi yang memanas, normalisasi kurva yield, atau tanda awal krisis kepercayaan terhadap fiskal AS? Belum ada jawaban tunggal. Bisa jadi memang tidak akan ada.
Menteri Keuangan Scott Bessent masih optimistis, menyebut proyeksi CBO terlalu pesimistis dan bahwa pertumbuhan ekonomi di bawah kebijakan Trump bisa lebih kencang dari perkiraan. Kenneth Rogoff, ekonom Harvard dan mantan kepala ekonom IMF, berpandangan lain. AS dan negara-negara besar lain dengan utang tinggi kini terjepit tekanan populis yang membuat pemerintah sulit menaikkan pajak atau memotong belanja. Solusinya ada, kalau data ini bisa dipercaya. Politiknya yang tidak pernah mudah.