Enam bulan. Enam kali berturut-turut IHSG menutup bulan dengan rapor merah, dan angka akhirnya cukup untuk membuat banyak investor menghela napas panjang.
Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di level 5.643,19 pada akhir perdagangan Selasa (30/6), melorot 177,59 poin atau 3,05 persen hanya dalam sehari. Sepanjang semester I-2026, indeks sudah ambruk 34,74 persen, setara 3.003 poin, dari level pembukaan 8.748,13 di awal Januari. Koreksi sedalam ini bukan angka biasa.
Perjalanan turunnya tidak dramatis dalam satu momen. Lebih seperti tangga yang terus menuruni anak demi anak tanpa jeda. Dari 8.329 di akhir Januari, lalu 8.235 di akhir Februari, kemudian jatuh lebih dalam ke 7.048 di Maret saat tekanan global memuncak. Kuartal kedua tak lebih baik: April tutup di 6.956, Mei di 6.125, dan Juni mengakhiri paruh pertama di 5.643. Pada pertengahan Juni, IHSG bahkan sempat menyentuh 5.342, level terendah sepanjang tahun.
Hampir seluruh indeks sektoral BEI berada di zona merah ytd. Yang paling dihajar adalah sektor energi dengan koreksi 42,17 persen, disusul properti yang ambles 40,15 persen. Dua sektor yang ironisnya sempat jadi primadona di tahun-tahun sebelumnya.
Apa yang mendorong pelemahan ini? Jawabannya tidak tunggal. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menyebut depresiasi rupiah sebagai salah satu tekanan utama, dengan nilai tukar mendekati Rp 17.900 per dolar AS, seiring ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter The Fed akan tetap ketat lebih lama dari perkiraan. Pernyataan Bank Indonesia soal komitmen menjaga stabilitas rupiah, agaknya, belum cukup meyakinkan pasar.
Faktor lain yang tak kalah besar: pengumuman MSCI minggu lalu. Head of Online Trading BCA Sekuritas Achmad Yaki mengatakan bahwa outflow yang terjadi saat ini masih berkaitan langsung dengan perubahan komposisi indeks MSCI tersebut. Belum ada stimulus konkret yang mampu mendongkrak kepercayaan investor, sementara target pertumbuhan ekonomi 8 persen pemerintah belum terefleksi di sektor riil. Bond yield yang masih tinggi pun membuat aliran modal bergeser dari ekuitas ke obligasi, bak air yang mencari celah paling rendah.
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mencatat perspektif yang perlu dicermati: beberapa metrik makro sebetulnya sudah membaik, mulai dari penguatan rupiah sesaat hingga harga minyak global yang melandai. Tapi kepercayaan investor belum pulih. "Investor asing masih keluar, tren saham masih turun, jadi investor menunggu titik rendah lagi sebelum kembali masuk," kata dia. Arjun memproyeksikan IHSG akan menguji level 5.600 dalam waktu dekat, dan jika level itu jebol, 5.350 menjadi support berikutnya. Di sanalah, menurutnya, pola double-bottom berpotensi terbentuk dan menjadi sinyal awal pembalikan arah.
Satu hal yang kerap terlupakan di pasar yang sedang terpuruk: selalu ada saham yang bergerak berlawanan arus. Sepanjang semester ini, sejumlah emiten justru mencetak apresiasi luar biasa, bahkan ada yang terbang hingga 500 persen lebih. Lonjakan ini umumnya didorong sentimen spesifik perusahaan, aksi korporasi, atau pergerakan teknikal yang menarik spekulan masuk secara masif. Sebaliknya, ada pula emiten yang kehilangan lebih dari tiga perempat kapitalisasi pasarnya, jauh melampaui rata-rata koreksi indeks. Pasar yang sama, nasib yang berbeda jauh.
799 saham bergerak di hari terakhir semester ini. Dari jumlah itu, 564 ditutup merah. Hanya 136 yang berhasil naik. Volume mencapai 21,87 miliar saham dengan nilai Rp 14,85 triliun. Lesu, tapi cukup untuk mencatat sejarah yang tidak ingin dikenang.
Data ekonomi awal Juli, termasuk inflasi dan neraca perdagangan, bisa jadi katalis penentu: apakah pasar akhirnya menemukan alasan untuk berbalik, atau sentimen negatif ini masih akan menumpuk lebih lama. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai penanda, jawabannya mungkin tak lama lagi tersedia.