SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Emas Reli Tiga Hari Beruntun Pasca Gencatan AS-Ira...

Bisnis

Emas Reli Tiga Hari Beruntun Pasca Gencatan AS-Iran, Proyeksi US$6.000 di Ujung 2026

Harga emas Comex melonjak hampir 2% ke US$4.749,50 per ons setelah Trump umumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran, sementara proyeksi akhir tahun 2026 makin agresif.

Gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran langsung memantik reli di pasar logam mulia. Rabu (8/4/2026), harga emas Comex kontrak April 2026 melesat hampir 2% ke level US$4.749,50 per troy ons. Kenaikan harian ketiga berturut-turut sejak pengumuman Presiden Trump. Bukan angka kecil.

Sepanjang tahun berjalan, emas sudah menguat 9,8%. Reli ini belum memperlihatkan tanda-tanda melambat, dan pelaku pasar tampaknya belum mau melepas posisi mereka.

Pasar memang merespons cepat kabar gencatan senjata itu. Tapi jangan salah, kekhawatiran tidak langsung lenyap. Pertanyaan yang lebih relevan buat trader dan fund manager: apakah dua minggu gencatan cukup untuk mengubah arah konflik Timur Tengah secara struktural? Atau ini sekadar jeda, ruang bagi emas untuk bernapas sebelum babak berikutnya?

Perak ikut terbawa angin segar yang sama, meski reli-nya lebih terbatas. Kedua logam mulia itu memang kerap bergerak seiring ketika sentimen risiko geopolitik mendominasi. Situasi Timur Tengah masih terlalu labil untuk diabaikan.

Prospek teknikal jangka pendek? Sudah kuat. Yang lebih bikin penasaran justru proyeksi jangka panjangnya.

Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas bisa menyentuh US$6.000 per troy ons sebelum tutup tahun 2026. Angka yang patut dicermati. Dari posisi sekarang di kisaran US$4.750, kalau proyeksi itu terealisasi, masih ada ruang kenaikan lebih dari 26%. Koreksi di sepanjang jalan, agaknya tidak bisa dihindari.

Optimisme Ibrahim bertumpu pada kombinasi tiga faktor: ketidakpastian geopolitik yang belum benar-benar reda, tekanan pada dolar AS, dan permintaan safe haven yang struktural dari bank-bank sentral global. Tiga variabel itu, entah kebetulan atau tidak, semuanya masih mengarah ke satu arah. Naik.

Memang, koreksi terjadi belakangan ini seiring sentimen yang naik-turun mengikuti perkembangan konflik. Tiap koreksi tampaknya dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi, bukan kepanikan jual. Pola klasik, sudah terbentuk sejak emas pertama kali menembus US$3.000 awal tahun ini.

Buat investor ritel lokal, pergerakan ini punya dampak langsung ke harga emas Antam dan produk investasi emas berbasis dolar. Selisih kurs rupiah terhadap dolar juga ikut memperbesar potensi return dalam mata uang lokal. Kalau dolar tetap tertekan sementara emas terus terkerek, kombinasi itu bisa jadi cukup menggiurkan. Setidaknya sampai ada kejelasan lebih lanjut dari Washington soal keberlanjutan gencatan senjata ini.