Laba bersih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai Rp20,8 triliun secara bank-only. Angka itu rupanya cukup untuk membuat para analis sekuritas tidak beranjak dari rekomendasi beli mereka.
Khusus April, BCA mengantongi Rp4,8 triliun. Bukan main. Pendorong utamanya adalah pendapatan non-bunga yang tumbuh 8 persen secara tahunan menjadi Rp10,43 triliun, sedangkan beban provisi terpangkas 16 persen year-on-year ke Rp1,06 triliun akibat pembalikan provisi di bulan yang sama. Hasilnya, cost of credit BCA kini bertengger di level 0,3 persen, yang tergolong tipis untuk bank dengan skala aset sebesar ini.
Capaian empat bulan pertama itu setara 34 persen dari estimasi konsensus konsolidasi 2026. Sebagai pembanding, periode yang sama tahun lalu mencapai 35 persen dari realisasi penuh 2025. Sejalan dengan ekspektasi, kalau data ini bisa dipercaya.
Sinyalnya tidak sepenuhnya bersih, tentu. Penyaluran kredit korporasi melambat selama empat bulan berturut-turut, hanya tumbuh 5 persen secara tahunan ke Rp965,01 triliun. Dana yang tidak tersalurkan ke kredit dialihkan ke instrumen surat berharga, yang melonjak 17,55 persen year-on-year menjadi Rp425,41 triliun. Bagi sebagian analis, strategi ini masuk akal. Bagi yang lain, ini pertanyaan soal apakah mesin pertumbuhan kredit BCA masih sekencang dulu.
Funding tetap solid. Dana pihak ketiga terkerek 8,56 persen secara tahunan ke Rp1.246,05 triliun, masih ditopang CASA yang menjaga rasio dana murah di 84,97 persen. Loan to deposit ratio berada di 77,45 persen, artinya ruang ekspansi kredit masih terbuka kalau memang permintaan korporasi kembali bergeliat.
Pada perdagangan Senin (25/5), harga BBCA ditutup menguat 3,39 persen ke Rp6.100 per saham setelah dua hari bursa sebelumnya selalu merah. Sebanyak 263,18 juta lembar berpindah tangan, frekuensi 37.435 kali, nilai transaksi Rp1,60 triliun. Investor asing membalik posisi menjadi net buy senilai Rp82,15 miliar, memutus empat hari beruntun aksi jual asing di saham ini. Entah kebetulan atau tidak, pembalikan ini datang tepat setelah rilis kinerja.
Ciptadana Sekuritas Asia menilai BBCA saat ini diperdagangkan di 2,4x PBV dan 11,7x PE estimasi 2026, yang mereka sebut sebagai diskon mendalam dari rata-rata historis. Target harga dipatok Rp9.200 per saham. MNC Sekuritas memangkas targetnya dari Rp10.500 menjadi Rp8.700, tapi tetap mempertahankan rekomendasi beli. Revisi itu berpijak pada penyesuaian tingkat imbal hasil yang disyaratkan ke 7,5 persen, bukan karena fundamentalnya amblas.
Lebih taktis, Phintraco Sekuritas memasukkan BBCA dalam daftar saham pilihan untuk Selasa (26/5) dengan strategi buy on support di kisaran Rp5.950 hingga Rp6.050, target jangka pendek Rp6.400, dan sell on strength di Rp6.700. Stoploss dipasang di bawah Rp5.750.
Gap antara harga sekarang di kisaran Rp6.100 dan target jangka panjang sekuritas yang rata-rata di atas Rp8.500 memang menganga lebar. Pertanyaannya, berapa lama investor mau bersabar menunggu gap itu menutup? Bisa jadi itulah yang mulai diperhitungkan asing ketika mereka balik badan kemarin.