SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kanada Simulasikan Perang Lawan AS, Skenario yang...

Internasional

Kanada Simulasikan Perang Lawan AS, Skenario yang Dulu Dianggap Gila

PM Mark Carney mengakui Kanada sedang mempersiapkan skenario invasi dari Amerika Serikat, sebuah kemungkinan yang dipicu retorika Trump soal negara bagian ke-51 dan tekanan tarif yang tak kunjung mereda.

Mengapa Kanada Bersiap Hadapi Invasi Militer AS?

Dua kuartal lalu, tidak ada satu pun analis geopolitik yang akan memasukkan "invasi AS ke Kanada" dalam daftar risiko yang perlu dikelola. Kini, Perdana Menteri Mark Carney secara terbuka mengakui skenario itu ada dalam simulasi pertahanan negaranya.

Carney berbicara kepada New York Times dengan nada terukur, tapi tidak bisa disepelekan. Ia menyebut kemungkinan invasi AS "sangat kecil", lalu langsung menambahkan bahwa sebagai pemimpin negara, ia punya tanggung jawab mempertimbangkan semua skenario, termasuk yang paling ekstrem sekalipun. "[Persiapan] itu hanya manajemen risiko," kata Carney. Kalimat pendek yang, dalam konteks hubungan AS-Kanada hari ini, terasa sangat berat.

Pemicunya sudah diketahui publik: tarif global yang ditetapkan Donald Trump, ditambah pernyataannya yang berulang soal keinginan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51. Retorika itu, yang awalnya dianggap lelucon politik, ternyata ditanggapi serius di Ottawa. Kanada dilaporkan telah menjalankan pemodelan tempur, menghitung apa yang terjadi bila pasukan AS benar-benar bergerak ke utara.

Hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Menurut laporan Globe and Mail yang mengutip pejabat senior pemerintah, serangan AS diproyeksikan akan membuat posisi-posisi strategis Kanada kewalahan dalam waktu sekitar satu minggu. Pasukan Kanada kemudian diasumsikan beralih ke taktik perang gerilya, sambil meminta dukungan dari Prancis dan Inggris.

Model ini diyakini menjadi yang pertama dalam satu abad terakhir, sejak Kanada terakhir kali serius merencanakan kemungkinan serangan dari AS. Fakta bahwa pemodelan semacam ini sudah ada jauh sebelum era Trump, agaknya membantu menempatkan situasi ini dalam konteks sejarah yang lebih jujur.

Sejarah hubungan kedua negara memang tidak semulus yang dibayangkan. Kanada lahir justru dari penolakan terhadap ekspansionisme Amerika. Tim Foran, peneliti di Canadian War Museum, menyebut ketakutan terhadap AS sebagai "fondasi dari proyek politik yang bernama Kanada." AS pernah menginvasi wilayah Kanada pada 1775, merebut kendali atas Montreal dan nyaris menaklukkan Kota Quebec, lalu berulang kali melancarkan serangan dalam Perang 1812. Semuanya berakhir gagal. Dalam salah satu aksi balasan yang paling ikonik, pasukan Inggris membakar Gedung Putih. Setelah Perang Dunia II, kedua negara menjadi sekutu erat, terintegrasi dalam NATO, NORAD, dan jaringan intelijen bersama. Itulah yang membuat skenario perang antara keduanya begitu absurd secara teknis.

Letjen Christopher Coates, mantan perwira Angkatan Udara Kanada selama 34 tahun, tegas soal ini. Sepanjang kariernya, ia tidak pernah sekalipun mempertimbangkan kemungkinan serangan militer dari AS. Kalau pun Washington ingin menekan Ottawa, kata Coates, caranya tidak akan dimulai dengan serbuan tank, melainkan lewat perang siber dan operasi-operasi terselubung.

Gedung Putih merespons dengan pernyataan standar kepada BBC. "Presiden Trump telah melakukan lebih banyak daripada siapa pun untuk melindungi rakyat Kanada yang hebat," begitu bunyinya. Klaim yang, bisa jadi, justru semakin membuat Ottawa bersiaga.

Matthew Schmidt, profesor keamanan nasional di University of New Haven, menyebut fenomena ini sebagai cermin retak dari tatanan global yang selama ini dianggap stabil. Ia juga mencatat ironi yang tidak kecil: kerja sama militer Kanada-AS selama ini memberi Ottawa akses ke intelijen berharga, tapi di saat yang sama memaksa para pemimpin Kanada mempertanyakan apakah mitra pertahanannya kini perlu diperlakukan sebagai ancaman potensial.

Invasi pun tidak akan mudah dari sisi AS sendiri, menurut Schmidt. "Saya pikir akan ada banyak perwira Amerika yang mengundurkan diri jika diperintahkan menginvasi Kanada," tegasnya. "Mereka akan menganggapnya sebagai perintah yang ilegal dan tidak bermoral." Tentara kedua negara terlalu sering berlatih bersama.

Jika konflik tetap meletus, Schmidt memperkirakan AS akan membidik sumber daya, minyak dan mineral, serta mengincar pergantian kepemimpinan politik. Polanya, katanya, mungkin akan menyerupai operasi di Venezuela awal tahun ini ketika AS menangkap mantan Presiden Nicolas Maduro. Kanada kini bersiap menghadapi semua skenario itu, termasuk dengan rencana penambahan hingga 300.000 prajurit warga sipil berlatih ringan. Beberapa tahun lalu, langkah ini hampir pasti dianggap paranoia.

Lebih dari 30% warga Kanada kini percaya invasi AS bukan hal yang mustahil. Ketika publik dari negara yang hidup berdamai lebih dari dua abad mulai berpikir seperti itu, ada sesuatu yang sudah bergeser secara fundamental, kalau pun skenario perangnya tidak pernah terwujud.