SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  INCO Incar Tambahan Kuota RKAB, Tiga Proyek HPAL T...

Bisnis

INCO Incar Tambahan Kuota RKAB, Tiga Proyek HPAL Tetap Sesuai Jadwal

PT Vale Indonesia Tbk membukukan pendapatan US$990,19 juta sepanjang 2025, dan kini bersiap mengakselerasi ekspansi dengan mengincar kenaikan kuota RKAB serta eksekusi opsi kepemilikan di proyek-proyek HPAL.

Pendapatan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyentuh US$990,19 juta sepanjang 2025, naik 4,18% secara tahunan. Bukan lompatan dramatis. Tapi angka itu cukup membuktikan bahwa emiten produsen nikel matte ini masih berdiri kokoh meski harga komoditas belum juga menemukan keseimbangan.

Yang justru lebih menarik bukan soal kinerja tahun lalu, melainkan apa yang dibeberkan manajemen dalam earnings call Rabu pekan lalu, 8 April.

Dalam sesi bersama pelaku pasar itu, manajemen INCO menghamparkan peta jalan ekspansi yang terbilang ambisius. Cash cost nickel matte ditarget tetap di bawah US$10.000 per ton selama 2026, setelah realisasi tahun sebelumnya tercatat US$9.339 per ton. Angka yang patut dicermati, apalagi ketegangan geopolitik Timur Tengah kini ikut mendorong harga minyak dan sulfur bergerak liar.

Soal ketahanan energi, inventori perseroan mencukupi sekitar dua bulan dengan sumber yang sudah terdiversifikasi: PLTA, diesel, dan batu bara. Stok sulfur bahkan tersedia untuk 33 hingga 35 minggu. Untuk mengantisipasi lonjakan harga sulfur lebih jauh, INCO tengah menjajaki diversifikasi sumber asam sulfat lewat pirit, gipsum, dan asam klorida. Setidaknya itu klaim manajemen.

Dari sisi kuota, RKAB INCO saat ini berada di kisaran 8,1 juta wet metric ton. Sekitar 5 hingga 6 juta wmt bakal dialokasikan untuk produksi bijih saprolit, sisanya kurang lebih 2 juta wmt untuk limonit. Harga jual bijih saprolit pada kuartal pertama 2026 diindikasikan lebih baik ketimbang kuartal sebelumnya, meski angka pastinya tidak dirilis ke publik. Cash cost untuk blok Bahodopi diekspektasikan sekitar US$18 per ton termasuk royalti, sementara blok Pomalaa diperkirakan lebih rendah karena skalanya lebih besar.

Seberapa besar peluang kuota RKAB ini ditambah?

Manajemen agaknya bermain dengan strategi klasik: buktikan dulu performa operasional, baru minta tambahan. Revisi RKAB yang diperkirakan bergulir Juni hingga Juli 2026 bakal jadi momen krusial. Tambahan kuota kemungkinan berasal dari realokasi penambang yang underperform, pola yang sudah familiar buat pelaku industri nikel. INCO sendiri sudah menyiapkan stockpile bijih limonit di Sorowako dan melakukan pre-stripping di lokasi tambang sebagai sinyal kesiapan.

Tiga proyek HPAL berjalan sesuai jadwal. Pomalaa mencatat progres konstruksi tambang 60% per Januari 2026, dengan progres HPAL sekitar 53% dan target beroperasi pada kuartal ketiga 2026, dipercepat satu kuartal dari rencana semula di kuartal keempat. Pengiriman bijih perdana dari Pomalaa sudah dilakukan lebih awal dua bulan, yakni Februari 2026, untuk persiapan uji coba. Bahodopi? Konstruksi tambangnya hampir rampung di 99%, HPAL-nya baru 21,5% dengan target kuartal keempat 2026. Lalu Sorowako Limonite yang masih tahap awal: progres tambang 37%, HPAL 17%, target beroperasi kuartal kedua 2027.

Satu hal yang langsung menarik perhatian investor: INCO berencana mengeksekusi opsi penambahan kepemilikan saham hingga 30% di JV Pomalaa dan Sorowako. Eksekusi paling cepat dilakukan pada 2027 dan sudah masuk rencana belanja modal. Perlu diingat, INCO saat ini masih pemegang minoritas di seluruh proyek HPAL. Kepemilikan di Bahodopi sudah berstatus final, sedangkan Pomalaa dan Sorowako masih berupa opsi yang belum dieksekusi. Pertimbangan utama bukan semata soal EBITDA positif, tapi juga kualitas smelter HPAL saat beroperasi nanti.

Selain proyek-proyek besar itu, INCO juga mengeksplor teknologi OESBF untuk memonetisasi saprolit berkadar rendah, plus EV hauling trucks demi efisiensi penambangan. Dua inisiatif yang, kalau berhasil dieksekusi, bisa jadi diferensiasi biaya yang lumayan berarti dalam jangka menengah.

Bagi pemegang saham INCO, kombinasi cash cost yang terjaga, pipeline HPAL yang berjalan sesuai rencana, dan potensi kenaikan kuota RKAB pertengahan tahun ini adalah cerita yang layak diikuti. Risikonya jelas: harga minyak dan sulfur bisa melonjak lebih liar akibat eskalasi Timur Tengah, sementara hasil revisi RKAB tetap bergantung pada keputusan regulator. Dua variabel yang sepenuhnya di luar kendali manajemen.