SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Ekspor Sawit Satu Pintu Lewat Danantara: Siapa Pal...

Bisnis

Ekspor Sawit Satu Pintu Lewat Danantara: Siapa Paling Kena Getahnya?

Kebijakan ekspor sawit satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang dijadwalkan berlaku Juni ini bakal memukul sejumlah emiten sawit besar di BEI, tepat di saat harga CPO sedang tertekan menuju MYR 4.484 per ton.

Simak! Tiga Emiten Ini Paling Besar Kena Imbas Ekspor Sawit Satu Pintu Prabowo

Belum juga kebijakan itu resmi berjalan, sejumlah emiten sawit sudah mulai deg-degan. Pemerintah memastikan ekspor komoditas sawit wajib melewati PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mulai Juni ini, dan bagi emiten yang selama ini mengandalkan jalur ekspor langsung ke pembeli luar negeri, skema baru ini bukan kabar kecil.

KONTAN memetakan aktivitas penjualan ekspor dan domestik dari 15 emiten sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasilnya cukup gamblang: ada tiga nama besar yang porsi ekspornya dominan dan berpotensi paling keras merasakan gesekan dari perubahan alur distribusi ini. Emiten dengan ketergantungan ekspor tinggi praktis kehilangan fleksibilitas negosiasi harga langsung dengan importir, sesuatu yang selama ini jadi keunggulan operasional mereka.

Timingnya agaknya kurang mujur. Harga minyak sawit mentah (CPO) di bursa Malaysia sedang melorot, mendekati level MYR 4.484 per ton, tepat di saat emiten harus beradaptasi dengan rantai ekspor yang lebih panjang dan birokrasi tambahan. Dua tekanan sekaligus. Bak dua kepala angin yang datang bersamaan, dan tidak satu pun dari arah yang menyenangkan.

Skema satu pintu lewat DSI pada dasarnya memposisikan perusahaan pelat merah itu sebagai agregator ekspor nasional. Secara teori, ini bisa memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia. Tapi bagi emiten yang sudah punya jaringan buyer internasional matang, ada biaya tersembunyi yang perlu diperhitungkan: margin yang tergerus, waktu transaksi yang melambat, dan hilangnya kendali atas pricing.

Apakah DSI punya kapasitas operasional untuk menyerap volume ekspor dari belasan emiten sekaligus? Pertanyaan itu belum dijawab tuntas.

Bagi investor ritel yang pegang saham emiten sawit dengan eksposur ekspor besar, inilah saat yang tepat untuk mencermati ulang komposisi pendapatan masing-masing perusahaan. Yang punya porsi penjualan domestik lebih berimbang jelas punya bantalan lebih tebal menghadapi transisi ini, setidaknya sampai mekanisme DSI benar-benar teruji di lapangan.