Sepanjang karier politiknya, Zhu Rongji dikenal sebagai orang yang tidak banyak basa-basi. Reformis keras, anti-korupsi, dan menurut banyak pihak, tidak takut mati. Warisannya kini kembali diperbincangkan, termasuk sebuah hadiah klasik yang hingga hari ini masih disimpan oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Nama Zhu Rongji tak bisa dilepaskan dari era transformasi besar Tiongkok. Dialah yang memimpin reformasi struktural di sektor keuangan, perbankan, dan perusahaan milik negara, sekaligus menjadi arsitek di balik masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia pada 2001. Pencapaian yang waktu itu dianggap mustahil oleh banyak kalangan.
Lahir di Changsha, Provinsi Hunan, Zhu menyelesaikan studi teknik elektro di Universitas Tsinghua pada 1951. Karier awalnya dihabiskan di bidang perencanaan produksi, mula-mula di Kementerian Perindustrian Timur Laut, lalu berpindah ke Komisi Perencanaan Nasional di Beijing pada 1952. Perjalanannya tidak mulus. Pada 1958, ia tersapu oleh Gerakan Rektifikasi yang berujung pada pengusirannya dari Partai Komunis Tiongkok. Dua dekade kariernya praktis beku. Baru setelah keanggotaan partainya dipulihkan pada 1978, roda kariernya kembali berputar, kali ini lewat pintu Komisi Ekonomi Nasional pada 1979.
Dari sana, ia menapaki tangga jabatan dengan cepat. Periode 1987 hingga 1991 ia habiskan di Shanghai, berturut-turut sebagai Wakil Sekretaris Komite Partai, Walikota, lalu Sekretaris Komite Partai. Shanghai di bawah tangannya berubah wajah; kota itu jadi semacam laboratorium reformasi sebelum model yang sama diterapkan ke skala nasional.
Pada 1991, Beijing memanggilnya pulang. Ia diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri yang membidangi ekonomi. Sejak saat itu, agaknya tidak ada kebijakan besar di sektor itu yang lepas dari tangannya. Ketika akhirnya menjabat Perdana Menteri dari 1998 hingga 2003, reputasinya sebagai "kepala insinyur" reformasi ekonomi China sudah mengeras, bak beton yang sudah lama kering.
Gaya kepemimpinannya yang tegas, sesekali terasa keras bahkan untuk ukuran internal partai, membuatnya disegani sekaligus ditakuti. Ia pernah secara terbuka menyatakan kesiapannya menyiapkan peti mati untuk para koruptor. Juga untuk dirinya sendiri bila terbukti bersalah. Bukan retorika kosong, setidaknya begitu yang dipercaya oleh mereka yang mengenalnya dari dekat.
Pertanyaannya, seberapa banyak pemimpin era itu yang berani taruh nama sendiri di atas meja?
Di luar panggung domestik, Zhu juga meninggalkan jejak di hubungan antarpemimpin. Hadiah klasik yang pernah diberikannya kepada Anwar Ibrahim, dan yang hingga kini masih disimpan PM Malaysia itu, menjadi semacam simbol relasi personal yang melampaui protokol diplomatik biasa.
Zhu Rongji adalah produk dari era yang kejam. Ia bertahan dari pembersihan politik, lalu memimpin salah satu transformasi ekonomi terbesar dalam sejarah modern. Bagi investor yang hari ini melihat China sebagai kekuatan pasar global, fondasi itu diletakkan, sebagian besar, oleh tangan seorang insinyur dari Hunan yang nyaris dilupakan sejarah.