Harga XRP pada Selasa (18/8/2026) menyentuh $1,02 atau sekitar Rp17.831 per koin, memantul dari posisi $0,99 sehari sebelumnya. Kenaikan ini mengikuti tren positif Bitcoin yang menguat 2,23 persen dalam periode sama. Kapitalisasi pasar XRP kini berada di kisaran $62,59 miliar, setara Rp1,12 kuadriliun.
Napas sejenak bagi para holder. Tapi jangan terlalu cepat lega.
Analis kripto ChartNerd mengingatkan bahwa setelah XRP sempat jebol ke bawah level psikologis $1, potensi koreksi tambahan 10 hingga 20 persen masih terbuka. Zona resistance yang perlu ditembus ada di kisaran $1,30 hingga $1,60. "Jika harga tidak mampu kembali menembus resistance sebelumnya di antara $1,30-$1,60, maka $0,90-$0,70 tetap menjadi area yang menarik," tulis ChartNerd di platform X, dikutip dari CoinMarketCap. Proyeksi ini, perlu dicatat, merupakan analisis teknikal, bukan kepastian bahwa XRP akan ambles sampai sana.
Kenaikan hari ini belum cukup mengubah peta teknikal secara berarti. XRP memang berkorelasi kuat dengan emas (0,75 persen), bergerak beriringan seiring sensitivitas suku bunga dan arus geopolitik, tapi pola makro itu belum tentu cukup mendorong XRP melewati resistance yang selama ini menghadang.
Ada sinyal menarik dari data on-chain. Volume transaksi besar di jaringan XRP Ledger dilaporkan melonjak hingga 280 persen, angka yang kerap diasosiasikan dengan akumulasi oleh pelaku institusional. Entah kebetulan atau tidak, lonjakan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya minat institusi terhadap aset kripto secara umum, termasuk eksplorasi SEC soal kemungkinan pemindahan saham AS ke platform blockchain untuk perdagangan nonstop.
Sebagai bridge asset dalam sistem pembayaran lintas negara, XRP Ledger dirancang memproses transaksi dengan kecepatan tinggi dan biaya rendah, sesuatu yang membedakannya dari Bitcoin yang lebih berfungsi sebagai penyimpan nilai. Ripple sebagai perusahaan memang berbeda dari XRP sebagai aset, tapi adopsi teknologi XRPL oleh institusi keuangan global tetap menjadi salah satu katalis jangka menengah yang dipantau investor. Bukan tanpa alasan nama ini terus muncul di radar.
Yang memperkeruh sentimen pekan ini: isu regulasi. XRP menjadi kripto utama dengan performa terlemah sepanjang pekan lalu, tergerus 0,91 persen dalam tujuh hari. Salah satu faktor yang disebut-sebut adalah dinamika seputar CLARITY Act, regulasi kripto yang tengah dibahas di Amerika Serikat. Kepastian regulasi selalu ibarat pedang bermata dua bagi aset seperti XRP, membuka pintu adopsi institusional di satu sisi, memunculkan tekanan jual jangka pendek selama periode ketidakpastian di sisi lain. Agaknya pasar belum selesai mencerna arah kebijakan itu.
Pertanyaannya, momentum beli atau jebakan di tengah tren turun? Jawaban teknikalnya ada di $1,30. Kalau XRP gagal merebut dan mempertahankan zona itu dalam beberapa sesi ke depan, $0,70 bukan sekadar angka di layar. Target yang nyata.