SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Menghijau di Atas US$82.000, tapi Sinyal B...

Finansial

Bitcoin Menghijau di Atas US$82.000, tapi Sinyal Bahaya Belum Sirna

Bitcoin menguat mendekati US$83.000 pada perdagangan Senin pagi, ditopang meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed. Namun analis Bloomberg Intelligence memperingatkan efek domino ke saham dan logam jika momentum tak terjaga.

Sepanjang sesi pagi Senin (19/10/2026), Bitcoin bergerak di kisaran US$81.621 hingga US$82.383 per koin, setara Rp1,47 miliar hingga Rp1,48 miliar berdasarkan kurs Rp18.053 per dolar AS. Ethereum, BNB, Solana, XRP, semuanya kompak parkir di zona hijau.

Katalis terdekatnya agaknya datang dari Washington. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, saat berdiskusi dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, memilih tidak menyebut-nyebut kenaikan suku bunga lebih lanjut. "Saya tidak menghakimi pertemuan sebelum waktunya," kata Warsh. Pasar langsung menangkapnya sebagai sinyal pelonggaran. Probabilitas kenaikan 25 basis poin di Oktober amblas dari 27% menjadi 15%, mengacu data CME FedWatch Tool. Cukup untuk bikin Bitcoin sedikit bernapas.

Kapitalisasi pasar kripto global ikut terkerek 0,28% dalam 24 jam menjadi US$2,72 triliun. Volume transaksi Bitcoin dalam periode yang sama mencapai Rp349,77 triliun. Pasar masih hidup, meski volatilitasnya mereda. Indeks CoinDesk 20, cerminan kinerja 20 aset kripto terbesar, menguat 0,25%.

Di balik penghijauan pagi ini, ada peringatan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Mike McGlone, analis senior komoditas Bloomberg Intelligence, menyoroti pola pergerakan Bitcoin yang mulai menyerupai fase mendatar panjang seperti pada 2018 dan 2022, dilihat dari rata-rata pergerakan 50 pekan. "Bitcoin mungkin harus membuktikan kekuatannya, karena jika tidak, efek domino bisa menjalar ke saham dan logam," kata McGlone. Sejak 2009, Bitcoin dinilainya kerap menjadi indikator awal bagi aset-aset berisiko secara lebih luas.

Yang bikin situasi ini agak ganjil: S&P 500, indeks total return komoditas Bloomberg, dan tembaga belum ikut terkoreksi sebagaimana pola di siklus bearish kripto sebelumnya. Oktober historis sering jadi bulan pembalikan arah. Bitcoin sendiri sudah turun lebih dari 2% sepanjang bulan ini, dan berpotensi mencatat dua kali penurunan bulanan Oktober beruntun untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Bukan rekor yang ingin dipecahkan.

Data sepekan pun masih bicara negatif, minus 1,7%. Dalam 30 hari terakhir BTC masih tumbuh tipis 1,17%. Angka yang tidak bisa dijual sebagai momentum.

Pandangan kontras datang dari Jurrien Timmer, direktur makro global Fidelity. Berdasarkan pola power law Bitcoin, ia menilai siklus kenaikan empat tahunan baru bisa saja sedang terbentuk secara diam-diam. "Tidak tampak ada narasi yang mendasarinya, tetapi pasar bullish memang jarang dimulai dengan sebuah narasi," ujar Timmer. Posisi Bitcoin saat ini, menurutnya, berada di area akumulasi berdasarkan grafik yang ia gunakan.

Kedua analis berbeda soal arah, tapi kompak soal satu hal: likuiditas global sedang mengetat. Itu bukan kondisi yang ramah buat aset berisiko mana pun. Emas dan Bitcoin sama-sama masih dalam fase konsolidasi. Arus dana ke emas terjaga, tapi pertumbuhannya tertahan perlambatan likuiditas global. The Fed telah menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75 hingga 4% pada September, dengan rapat berikutnya dijadwalkan 27-28 Oktober.

Di level ritel, sentimen investor di platform Stocktwits sudah bergeser dari bearish menjadi sangat bearish, meski volume percakapan masih sepi. Pasar boleh saja menghijau pagi ini. Pertanyaannya: apakah ini awal pemulihan, atau sekadar dead cat bounce sebelum Oktober menagih janjinya?