Xiaomi resmi meluncurkan TWS Clip, earbud clip-on pertama mereka, dalam acara peluncuran perangkat keras besar di China pada 21 Mei 2026. Bersamaan dengan Xiaomi 17 Max dan Smart Band 10 Pro, produk ini melengkapi ekosistem wearable mereka yang terus melebar.
Sepintas, ini terlihat seperti produk audio biasa. Tapi begitu membaca daftar spesifikasinya, agaknya Xiaomi tidak sedang main-main dengan segmen open-ear yang belakangan makin ramai.
Desain clip-on berarti modul earbud tidak masuk ke dalam lubang telinga, melainkan menjepit di sisi daun telinga. Bobot tiap sisi hanya 5,5 gram, ditopang struktur kawat titanium memori yang fleksibel sekaligus kokoh. Xiaomi juga menerapkan desain melengkung biomimetik, pendekatan ergonomis yang diklaim membuat perangkat ini nyaman dipakai berjam-jam tanpa tekanan berlebih. Finishing glossy dengan elemen transparan di bagian speaker, aksen tekstur metalik di eksterior, serta dua pilihan warna Satin Gold dan Pearl White menjadikan tampilan keseluruhan terasa lebih lifestyle dibanding sekadar gadget audio.
Soal audio, Xiaomi membekali TWS Clip dengan driver 11mm berdiafragma berlapis logam, codec LHDC 5.0, dan sertifikasi Hi-Res Audio. Bukan angka remeh untuk kelas open-ear. Tiga mikrofon plus sensor VPU hadir untuk keperluan panggilan, dan teknologi peredam bising berbasis AI ikut disematkan agar percakapan tetap jernih saat berada di keramaian. Ada pula teknologi "reverse sound wave" yang diklaim menekan kebocoran suara, kelemahan klasik perangkat open-ear yang selama ini jadi bahan keluhan pengguna.
Fitur AI-nya yang paling menarik perhatian adalah kemampuan penerjemahan real-time hingga 21 bahasa, plus perekaman suara dengan ringkasan otomatis. Berguna untuk rapat atau perjalanan bisnis, walau beberapa fitur ini bisa jadi bekerja optimal hanya dalam ekosistem Xiaomi bersama asisten virtual Xiao AI. Entah kebetulan atau tidak, jangkauan 21 bahasa itu persis di angka yang terasa pas untuk pasar Asia dengan keragaman linguistik tinggi.
38 jam. Total daya tahan bersama charging case, angka yang tidak main-main untuk kelas ini. Casing-nya sendiri fungsional: port USB-C, indikator LED, tombol fisik, dan speaker internal yang memunculkan dugaan fitur location tracking audio, mirip solusi yang ditawarkan produk premium sejenis. Ketahanan IP57 membuat perangkat ini layak dibawa olahraga atau dipakai hujan-hujanan.
Harga resmi untuk pasar China 849 yuan, dengan harga perkenalan 799 yuan. Kalau data kurs ini bisa dipercaya, itu sekitar Rp1,9 juta, kisaran yang lumayan kompetitif jika dibandingkan Huawei FreeClip2 di segmen yang sama. Meski sumber lain menyebut angka sekitar US$115 atau lebih dari Rp2 jutaan, perbedaan itu wajar mengingat fluktuasi nilai tukar.
Untuk sementara, produk ini baru tersedia di pasar domestik China. Distribusi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diperkirakan menyusul beberapa bulan setelah peluncuran perdana. Konsumen Indonesia yang berminat agaknya perlu sedikit bersabar, setidaknya sampai ada kepastian dari distributor resmi soal harga dan jadwal masuknya.