Tujuh tahun pembaruan software, 47 fitur AI, dan harga di bawah Rp12 juta. Begitulah Samsung Electronics Indonesia memposisikan Galaxy S26 FE yang resmi diluncurkan secara virtual, Minggu (18/10/2026), menyasar pengguna yang selama ini nyaman di Galaxy A Series tapi mulai tergoda pengalaman flagship.
Angka 65 persen cukup bicara banyak. Segitu proporsi pembeli Galaxy S26 FE yang datang dari lini Galaxy A, sisanya beralih dari Galaxy S generasi sebelumnya. Samsung agaknya sadar betul ceruk mana yang paling potensial.
Dari sisi jeroan, Galaxy S26 FE mengandalkan chipset Exynos 2500 berbasis fabrikasi 3 nanometer, naik satu generasi dari Exynos 2400 4nm yang mentenagai Galaxy S25 FE. Samsung mengklaim peningkatan performa CPU hingga 11 persen, GPU 24 persen, dan NPU 51 persen dibanding pendahulunya. NPU yang melonjak itu bukan angka kosong, eh, bukan sekadar angka kosong. Di situlah tumpuan 47 fitur Galaxy AI bekerja.
Bicara Galaxy AI, S26 FE membawa 26 fitur on-device, 17 berbasis cloud, dan empat hybrid. Berdasarkan data internal Samsung selama September 2026, Photo Assist menjadi fitur yang paling banyak diakses dengan kontribusi 37 persen dari total penggunaan AI. Now Brief menyusul di 22 persen, Audio Eraser di posisi ketiga dengan 12 persen. Fitur terakhir ini yang belakangan ramai diperbincangkan kreator konten, terutama mereka yang aktif di TikTok, karena memangkas waktu editing dengan cara mengisolasi atau mengurangi suara latar yang mengganggu dalam rekaman.
Dua fitur baru yang absen di S25 FE: My FanCam dan Horizontal Lock pada Super Steady. My FanCam memungkinkan pengguna memilih subjek setelah perekaman, lalu kamera secara otomatis mengikuti pergerakan subjek agar tetap di tengah bingkai, termasuk menyiapkan output dalam format vertikal maupun lanskap tanpa crop manual. Untuk pertama kalinya, fitur ini hadir di lini Galaxy S lewat perangkat ini. Horizontal Lock menjaga garis horizon tetap lurus meski smartphone diputar hingga 360 derajat, berguna ketika merekam sambil berlari atau mengikuti aktivitas dinamis.
Konfigurasi kamera belakangnya mempertahankan setup tiga lensa: utama 50 MP dengan OIS, ultrawide 12 MP, dan telefoto 8 MP dengan optical zoom 3x. Space Zoom bisa ditarik hingga 30x, perekaman video mentok di 8K, dan Nightography Video hadir untuk kondisi minim cahaya. Kamera depan 12 MP kini punya bidang pandang 85 derajat, lebih lebar dibanding 80 derajat milik S25 FE. Lima derajat mungkin terdengar kecil. Tapi dalam praktik selfie grup atau rekaman vlog, perbedaan itu cukup terasa.
"Naik kelas ke Galaxy S bukan sekadar tentang memiliki smartphone dengan spesifikasi lebih tinggi, tetapi tentang mendapatkan pengalaman yang memberikan nilai tambah dalam keseharian," ujar Ilham Indrawan, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia. Kemampuan kamera, lanjutnya, jadi faktor utama keputusan pembelian bagi 70 persen pengguna Galaxy S FE, klaim yang sekaligus menjustifikasi fokus Samsung pada pembaruan di segmen tersebut.
4.900 mAh. Kapasitas baterai yang diklaim sanggup memutar video hingga 29 jam. Pengisian 45W Super Fast Charging diklaim bisa mengisi baterai ke 69 persen dalam 30 menit, plus dukungan wireless charging 15W. Sistem pendinginnya ikut diperbesar 7 persen, dan Samsung mengklaim chipset Exynos 2500 15 persen lebih hemat daya dibanding generasi sebelumnya.
Layar 6,7 inci Dynamic AMOLED 2X dengan refresh rate 120 Hz dan kecerahan puncak 1.900 nits tidak berubah dari S25 FE, begitu pula sertifikasi IP68-nya. Bobot 193 gram, ketebalan 7,4 mm, balutan Corning Gorilla Glass Victus+ di depan dan belakang, rangka aluminium. Tersedia tiga warna: Blueberry, Pistachio, dan Graphite.
Komitmen software tujuh generasi OS dan tujuh tahun patch keamanan jadi salah satu argumen terkuat Samsung untuk perangkat seharga Rp11.999.000 ini, terutama bagi konsumen yang ingin memegang satu perangkat dalam waktu lama. Bandingkan dengan S25 FE yang dilepas Rp9.999.000 untuk varian 8/128 GB yang sama: selisih Rp2 juta untuk chipset satu generasi lebih baru, My FanCam, Horizontal Lock, kamera depan lebih lebar, dan One UI 9 sebagai antarmuka perdana di lini Galaxy S. Pertanyaannya, apakah selisih itu sepadan? Bagi kreator konten aktif dan pengguna yang memang berniat pakai perangkat ini lebih dari lima tahun, jawaban mudah. Bagi yang sudah nyaman di S25 FE, agaknya tidak perlu terburu-buru.