2.047.329 versus 990.586. Dua angka Antutu yang selisihnya lebih dari dua kali lipat, di segmen harga yang sama. Bukan hal kecil.
Xiaomi 17T datang dengan amunisi yang jauh lebih berat. Chipset-nya menghasilkan performa gaming dan multitasking yang, setidaknya di atas kertas, menghancurkan Edge 70 Fusion. Buat pengguna yang rutinitas hariannya melibatkan game berat atau video editing di ponsel, perbedaan ini terasa nyata, bukan sekadar angka benchmark yang cuma bagus di lab.
Sisi kamera juga berpihak ke Xiaomi. Triple camera dengan periscope 5x optical zoom plus sentuhan Leica tuning adalah kombinasi yang sulit dilawan dual camera Motorola yang absen telephoto. Ketiadaan lensa telefoto itu bukan sekadar soal zoom, ini soal kehilangan satu dimensi fotografi sepenuhnya. Konektivitas pun begitu: Wi-Fi 6E tri-band, navigasi multi-band L1+L5, Bluetooth 6.0 ada di Xiaomi 17T. Motorola bermain jauh lebih konservatif di sana.
Layar? Satu-satunya wilayah yang agaknya lebih berimbang. Motorola menang di refresh rate 144Hz dan peak brightness 5.200 nits, angka yang tidak main-main untuk outdoor visibility. Xiaomi membalas dengan 68 miliar warna, Dolby Vision, dan PWM dimming 3.840Hz yang lebih ramah di mata kondisi redup. Mana yang lebih penting tergantung kebiasaan pakai. Tapi secara kualitas warna, keunggulan Xiaomi cukup terasa.
Motorola tidak datang tanpa senjata. Kapasitas baterai 7.000 mAh melawan 6.500 mAh Xiaomi, dan bobot 177 gram versus 200 gram adalah keunggulan yang langsung terasa di saku sepanjang hari. Kalau prioritas utama adalah daya tahan dan ponsel yang tidak bikin pegal, argumen Motorola valid.
Tapi gap-nya terlalu lebar. Untuk pengguna yang butuh ponsel serba bisa, keunggulan baterai dan bobot Motorola sulit mengimbangi jurang performa dan kamera yang terbuka lebar. Motorola Edge 70 Fusion cocok untuk profil yang spesifik: baterai jumbo, layar terang, tidak terlalu peduli gaming atau zoom. Di luar profil itu, Xiaomi 17T menawarkan value yang, jujur saja, sulit dibantah di kisaran harganya.