MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Xiaomi 17T Series Resmi Masuk Indonesia: Periskop...

Tekno

Xiaomi 17T Series Resmi Masuk Indonesia: Periskop Leica di Kelas Rp9-13 Juta

Xiaomi 17T Series resmi mendarat di Indonesia dengan senjata utama kamera Leica periskop 5x dan baterai silikon-karbon 7.000 mAh, menawarkan pengalaman mendekati flagship di harga yang masih lebih manusiawi.

Review Xiaomi 17T

Harga flagship lokal terus merangkak. Rp15 juta hingga Rp20 juta kini jadi angka lazim untuk ponsel kelas atas, sementara kebutuhan mayoritas pengguna sebenarnya tidak selalu menuntut performa sekelas itu. Xiaomi tampaknya paham betul celah ini, dan mereka mengisinya dengan Xiaomi 17T Series yang baru resmi masuk Indonesia.

Xiaomi 17T hadir dalam dua konfigurasi: Rp8.999.000 untuk varian 12GB/256GB dan Rp9.999.000 untuk 12GB/512GB. Satu tingkat di atasnya, Xiaomi 17T Pro dibanderol mulai Rp11.999.000 untuk varian 12GB/256GB dan Rp12.999.000 untuk 12GB/512GB. Keduanya membidik segmen yang sama: pengguna yang ingin rasa flagship tanpa harus menggadaikan sesuatu.

Senjata utama ada di kamera. Xiaomi berkolaborasi dengan Leica untuk menghadirkan sistem optik Summilux, lengkap dengan dua karakter warna khasnya: Leica Vibrant yang menghasilkan gambar hidup dan jenuh warna, serta Leica Authentic yang lebih natural. Yang bikin seri ini beda dari kebanyakan pesaing di kelas harganya adalah kehadiran lensa periskop telefoto 50MP dengan optical zoom 5x, setara focal length 115mm. Ini bukan fitur yang bisa ditemukan sembarangan di ponsel Rp8-12 jutaan.

Marketing Director Xiaomi Indonesia Andi Renreng menegaskan bahwa kamera tetap jadi faktor penentu pembelian ponsel di pasar lokal. "Dengan fitur seperti Leica Live Moment dan Leica 5x Telephoto, Xiaomi 17T Series dirancang untuk membantu pengguna menangkap setiap momen dengan foto dan video yang lebih hidup," katanya saat peluncuran. Fitur Leica Live Moment sendiri memungkinkan pengguna menghasilkan foto bergerak hanya dari satu ketukan tombol rana, semacam jawaban Xiaomi atas tren konten dinamis di media sosial.

Kamera utama 50MP Light Fusion 800 (17T) dan Light Fusion 950 (17T Pro) keduanya dilengkapi OIS, sementara kamera ultrawide 12MP bertugas mengisi sudut lebar. Titik lemahnya ada di sini: kualitas ultrawide belum sebanding dengan kamera utama maupun telefoto, baik dari sisi detail maupun akurasi warna.

Beda cerita di baterai. Xiaomi 17T Pro membawa baterai silikon-karbon 7.000 mAh, varian reguler 17T mencatatkan 6.500 mAh. Klaim daya tahan 17T Pro cukup mengesankan: video playback 30,7 jam, perekaman video 9,5 jam, penggunaan non-stop 20,3 jam. Bukan angka yang main-main. Pengisian daya 100W via kabel jadi standar untuk keduanya, dengan 17T Pro butuh sekitar 48 menit untuk terisi penuh. Ada pula pengisian nirkabel 50W dan reverse charging 22,5W.

Dapur pacu keduanya cukup jauh jaraknya. Xiaomi 17T mengandalkan MediaTek Dimensity 8500 Ultra fabrikasi 4nm dengan skor AnTuTu sekitar 2,1 juta poin, cukup untuk aktivitas harian dan gaming kasual. Xiaomi 17T Pro melompat ke MediaTek Dimensity 9500 fabrikasi 3nm, skor AnTuTu mendekati 3,55 juta poin. Dibanding generasi sebelumnya, 15T Pro dengan skor SoC sekitar 1,7 juta, ini peningkatan yang nyata.

Layarnya sama: panel AMOLED dengan kecerahan puncak 3.500 nits, Dolby Vision, HDR10+, kedalaman warna 12-bit. Perbedaan ada di refresh rate, di mana 17T Pro mencapai 144Hz sementara 17T berjalan di 120Hz. Dalam praktik, 17T kadang masih menurunkan refresh rate ke 60Hz di beberapa aplikasi. Agak mengganggu untuk kelas harga ini.

Satu kompromi yang perlu diakui: Xiaomi 17T menggunakan frame plastik. Di rentang harga Rp9-10 jutaan, beberapa kompetitor sudah menawarkan rangka aluminium. Rakitannya solid, tidak ada bunyi berdecit atau flex, tapi feel di tangan tetap berbeda. Untungnya sertifikasi IP68 dan Gorilla Glass 7i tetap hadir, jadi ketahanan fisiknya tidak dikorbankan.

Keduanya menjalankan HyperOS 3 berbasis Android 16 dengan fitur AI: AI Writing, AI Translator, AI Search, hingga integrasi Gemini. Xiaomi juga menjanjikan lima tahun pembaruan Android dan enam tahun patch keamanan, angka yang cukup agresif dibanding rata-rata industri.

Bagi pengguna yang menimbang 17T Pro melawan POCO F8 Ultra, yang dibanderol di harga setara dengan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan audio Sound by Bose, pilihannya tergantung prioritas. Kalau fotografi dan daya tahan baterai jadi patokan utama, 17T Pro punya nilai lebih. Kalau gaming berat dan audio imersif lebih penting, POCO F8 Ultra agaknya lebih masuk akal.

Periskop Leica 5x di kelas harga ini bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja. Xiaomi 17T Series tidak datang dengan tangan kosong.