Paling cepat minggu depan, Xi Jinping akan menginjakkan kaki di Pyongyang untuk pertama kalinya sejak 2019. Bukan kunjungan seremonial biasa, tunggu, bukan begitu. Kunjungan ini membawa muatan diplomatik yang jauh lebih berat: Xi disebut akan mencoba memposisikan diri sebagai perantara antara Kim Jong-un dan Donald Trump.
Sumber pemerintah Korea Selatan, pertama kali dikutip kantor berita Yonhap, mengonfirmasi kabar ini. Tim dari dinas keamanan dan pejabat protokol China sudah lebih dulu tiba di Pyongyang. Bukan gerakan kecil untuk sebuah kunjungan yang katanya belum pasti.
Timingnya bukan kebetulan. Xi baru saja menjamu Trump di Beijing pekan lalu. Dari pertemuan itu, dokumen resmi Gedung Putih menyebut kedua pemimpin "menegaskan tujuan bersama mereka untuk melucuti senjata nuklir Korea Utara." Trump, yang sudah tiga kali bertemu Kim di masa jabatan pertamanya, kembali menyatakan diri terbuka untuk dialog, mengklaim masih punya jalur komunikasi dengan Pyongyang.
Sebelum Xi, Wang Yi sudah membuka jalan. Bulan lalu, Menteri Luar Negeri China itu berkunjung ke Pyongyang, bertemu Menlu Choe Son-hui sekaligus Kim Jong-un langsung. Pesannya gamblang: Beijing dan Pyongyang perlu mempererat koordinasi menghadapi situasi global yang kian tidak menentu. Kunjungan Wang, agaknya, hanyalah penjajakan sebelum bosnya datang sendiri.
Bagi Beijing, posisi ini sangat strategis. China satu-satunya kekuatan besar yang punya akses langsung ke dua pihak yang selama ini tidak saling bicara: Washington dan Pyongyang. Menjadi perantara bukan sekadar gestur, ini cara China menegaskan relevansinya di papan catur Asia Timur. Dan entah kebetulan atau tidak, posisi itu sangat menguntungkan.
Hubungan Beijing-Pyongyang sendiri sedang dalam pemulihan. Pandemi Covid-19 pernah membekukan keduanya secara harfiah, perbatasan rapat tertutup, intensitas pertukaran amblas drastis. Kini China sudah membuka kembali penerbangan langsung dan kereta penumpang ke Pyongyang.
Angka perdagangan bilateral juga bicara keras. Sepanjang Januari-Februari 2026, nilai dagang China-Korea Utara menyentuh 427 juta dolar AS, tertinggi dalam sembilan tahun. Di balik angka itu ada komoditas yang menarik perhatian: Beijing mengimpor molybdenum senilai 17,2 juta dolar AS dan tungsten senilai 31,5 juta dolar AS dari Pyongyang sepanjang 2025, dua logam dengan kegunaan strategis dalam pembuatan roket dan peluru kendali.
Korea Selatan merespons dengan hati-hati. Kementerian Luar Negeri Seoul berharap pembicaraan Beijing-Pyongyang bisa berkontribusi pada stabilitas Semenanjung Korea, sembari mendorong China memainkan peran konstruktif. Soal detail rencana kunjungan Xi? Kemenlu menolak berkomentar.
Sikap itu bisa dipahami. Hubungan antar-Korea sudah di titik yang sangat buruk. Korea Utara pada akhir 2023 secara resmi mendefinisikan relasi keduanya sebagai hubungan antarnegara yang bermusuhan. Seoul kini, untuk pertama kalinya dalam dokumen kebijakan resminya, menyebut kedua Korea sebagai dua negara terpisah.
Pertanyaannya, apakah Xi benar-benar punya kapasitas menggerakkan Kim menuju meja perundingan? Pyongyang yang masih menutup pintu bagi wisatawan internasional, kecuali dari Rusia, bukan negara yang mudah dibujuk. Tapi kalau ada satu pemimpin asing yang telepon dan pesannya tidak diabaikan oleh Kim Jong-un, kemungkinan besar itu Xi Jinping.