Gelombang PHK besar-besaran mengancam divisi Xbox Microsoft, dengan jadwal restrukturisasi yang disebut mulai bergulir awal Juli 2026. Skala dampaknya bukan sekadar pengurangan headcount biasa: laporan internal menyebut sejumlah proyek rahasia berpotensi dibatalkan, dan beberapa tim bisa dibubarkan sepenuhnya.
Studio-studio besar di bawah naungan Xbox kini dilaporkan berada di posisi rawan. Nama-nama seperti Compulsion Games, Double Fine, Ninja Theory, Undead Labs, hingga Arkane Studios masuk dalam daftar yang bikin komunitas gamer global menahan napas. Bukan studio sembarangan.
Sinyal bahaya sebenarnya sudah muncul lebih awal. CEO Xbox Asha Sharma sempat mengirimkan memo internal kepada staf, mengakui bahwa jaringan studio mereka sudah terlalu besar untuk dikelola secara efisien dan membutuhkan "reset" bisnis yang menyeluruh. Pernyataan yang, entah kebetulan atau tidak, bocor ke publik tepat saat tekanan terhadap divisi gaming Microsoft sedang memuncak.
Angka-angkanya cukup berbicara sendiri. Pendapatan tahunan Xbox merosot sekitar setengah miliar dolar AS dalam lima tahun terakhir, sementara biaya produksi perangkat keras konsol justru membengkak empat kali lipat. Berat, bahkan bagi raksasa seperti Microsoft.
Juru bicara Xbox keluar dengan pernyataan yang agak mengejutkan: total nilai investasi untuk pengembangan game baru tidak dikurangi. Perusahaan mengklaim hanya mengalihkan fokus pendanaan ke proyek-proyek yang dianggap lebih strategis. Klaim yang masih perlu dibuktikan, terutama setelah kemitraan penerbitan bersama IO Interactive untuk proyek bertajuk Project Fantasy resmi diputus.
Serikat pekerja tak tinggal diam. Perwakilan staf Xbox secara terbuka menolak perlakuan yang mereka anggap menempatkan kreator sebagai komoditas yang mudah diganti, dan menuntut komitmen perlindungan konkret dari manajemen. Suara yang keras, tapi belum jelas akan ditanggapi sejauh mana.
Microsoft berdalih langkah ini sejalan dengan tren global, di mana penerbit besar memang semakin selektif mendanai proyek baru lantaran kondisi industri makin kompetitif. Argumen yang masuk akal di atas kertas. Kurang meyakinkan ketika yang kena tampar justru studio-studio dengan rekam jejak panjang dan basis penggemar yang loyal.
Pertanyaannya sederhana bagi investor yang melirik saham induk Microsoft: apakah efisiensi ini cukup untuk membalikkan tren pendapatan Xbox yang sudah tergerus lima tahun, atau ini baru langkah pertama dari restrukturisasi yang jauh lebih dalam?