Hari ini adalah hari terakhir tahun fiskal Microsoft. Dan kalau laporan-laporan yang beredar benar, apa yang menyusulnya bisa mengubah wajah industri game selamanya.
Sinyal bahaya sudah terbaca sejak awal Juni. CEO Xbox Asha Sharma dan Chief Content Officer Matt Booty mengirim memo internal yang, meski tidak secara eksplisit menyebut PHK, cukup untuk membuat siapa pun yang membacanya mengernyitkan dahi. Isinya tajam: biaya operasional Xbox melonjak, sementara pendapatan tahunan segmen game justru turun hampir setengah miliar dolar AS. Microsoft telah menggelontorkan lebih dari 89 miliar dolar AS untuk akuisisi dan investasi studio dalam lima tahun terakhir, termasuk pembelian Activision Blizzard King senilai 69 miliar dolar AS pada 2023. "Ke depannya, ini tidak bisa terus berlanjut," tulis keduanya. Kalimat pendek. Konsekuensinya tidak.
Yang kemudian bocor ke publik bukan sekadar soal efisiensi anggaran. George Broussard, pencipta Duke Nukem sekaligus pendiri 3D Realms, mengklaim telah melihat langsung daftar studio Xbox yang akan terdampak. Dalam unggahannya di media sosial, ia menyebut peristiwa ini sebagai "acara PHK tunggal terbesar dalam sejarah game", lalu menambahkan bahwa "kehancuran akan bergema seperti meteor yang memusnahkan dinosaurus." Bukan klaim ringan dari orang yang sudah puluhan tahun malang-melintang di industri ini.
Nama-nama yang beredar dalam laporan restrukturisasi ini bukan studio kecil. Ninja Theory (Hellblade), Double Fine (Psychonauts), dan Compulsion Games masuk dalam daftar yang disebut berisiko ditutup atau dijual. Undead Labs, studio di balik franchise State of Decay, belakangan ikut terseret setelah laporan GamesBeat menyebut Microsoft tengah aktif mencari pembeli untuk studio itu. Ironisnya, gameplay State of Decay 3 baru saja dipamerkan di Xbox Games Showcase 2026 bulan ini, dengan rencana rilis 2027 untuk PS5, Xbox, dan PC. Kalau tidak ada pembeli yang muncul, sekitar 110 karyawan Undead Labs bisa kehilangan pekerjaan.
Nasib serupa agaknya sedang menghantui Compulsion Games. Hanya beberapa minggu setelah South of Midnight meraih penghargaan BAFTA dan Peabody untuk kategori best new intellectual property, lebih dari selusin staf studio itu secara terbuka memperbarui profil LinkedIn mereka ke status "open to work". Mereka bukan dari satu departemen: level designer, narrative designer, technical artist, environment artist, animator, semua bergerak hampir bersamaan. Studio dengan 115 staf internal tiba-tiba terlihat sangat berbeda. Principal level designer Mike Sklavounos menyebut situasi ini sebagai "peristiwa yang tidak terduga." Sulit membantah penilaiannya.
Menang BAFTA dan Peabody, lalu kehilangan tim yang membangun karyanya. Bukan main.
Communications Workers of America (CWA) turun ke jalan pada 29 Juni. Serikat pekerja yang mewakili sekitar 3.500 pekerja industri game itu menegaskan posisinya: karyawan tidak boleh jadi tumbal keputusan bisnis korporasi. Wakil Presiden Distrik 9 CWA Frank Arace berkata langsung, "Kami di sini untuk mengatakan dengan jelas bahwa para pekerja tidak akan diperlakukan sebagai barang sekali pakai." Bendahara UVW-CWA Sherveen Uduwana menyuntikkan konteks yang lebih menggigit: Xbox baru saja menaikkan harga konsol untuk ketiga kalinya tahun ini, sementara CEO Microsoft Satya Nadella dilaporkan mengantongi kompensasi 96 juta dolar AS sepanjang 2025. Uang itu ada, kata Uduwana. Soal prioritas yang dipertanyakan.
Kesaksian dari lantai studio terasa lebih personal. Desainer Elder Scrolls Online Morgan Goin mengungkapkan kehilangan tunjangan yang ia kumpulkan bertahun-tahun setelah Microsoft menutup Arkane Austin mendadak, tanpa pemberitahuan yang memadai. Editor cerita Blizzard Alison Veneto menyebut setiap gelombang PHK tidak sekadar memangkas jumlah kepala, tapi menghapus pengetahuan institusional yang tidak bisa dibangun ulang dalam semalam. "Sulit untuk tetap kreatif ketika ancaman PHK terus menghantui dan tidak ada aturan yang jelas mengenai bagaimana proses itu dilakukan," ujarnya, mendesak Microsoft membuka negosiasi lebih serius dengan serikat pekerja.
Hingga artikel ini ditulis, Microsoft belum mengeluarkan satu pun pernyataan resmi. Tapi pasar, para pekerja, dan veteran industri seperti Broussard sudah membaca ke mana angin bertiup. Pertanyaannya bukan lagi apakah PHK massal ini akan terjadi, melainkan berapa banyak studio yang masih berdiri setelah badai ini berlalu.