Dua tahun lalu, GPS internal di smartwatch masih identik dengan Garmin atau Coros seharga jutaan rupiah. Kini, Amazfit Bip dan Redmi Watch menawarkan fitur serupa di harga yang bisa dijangkau mahasiswa.
Tren ini bukan kebetulan.
Olahraga lari terus membengkak popularitasnya, terutama di kalangan pekerja urban yang butuh gerak tapi tidak punya waktu lebih. Ketika komunitas lari tumbuh, permintaan terhadap perangkat pelacak aktivitas ikut meledak, termasuk di segmen paling bawah sekalipun.
Fitness band seperti Xiaomi Smart Band dan Huawei Band sudah lama jadi pilihan masuk. Desainnya ringan. Baterainya tahan satu hingga dua minggu sekali charge, jauh dari drama smartwatch premium yang minta jatah colokan hampir tiap malam. Bagi pengguna baru yang belum yakin mau serius lari, daya tahan baterai itu sering jadi argumen pertama, sebelum bicara fitur apa pun.
Tapi kelas ini agaknya sedang bergeser cukup drastis. Sensor detak jantung, pemantauan saturasi oksigen, pelacakan tidur, hingga GPS internal kini sudah masuk ke paket harga yang kompetitif. Beberapa model bahkan mulai mengemas algoritma kesehatan berbasis AI untuk memperkirakan pemulihan tubuh pascalari. Cukup ambisius untuk ukuran perangkat yang harganya masih di bawah tiga ratus ribuan.
Akurasi? Cerita lain. Data VO2 max atau analisis gaya berlari yang mulai muncul di beberapa produk Amazfit, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, masih butuh pembuktian lebih jauh. Tapi untuk kebutuhan dasar pelari pemula, hitung jarak, pantau detak jantung, rekam rute, perangkat ini sudah lebih dari cukup. Tidak perlu lebay.
Produsen China yang mendominasi percakapan di segmen ini punya satu keunggulan yang susah dilawan: kemampuan menekan biaya produksi sambil terus memperluas fitur. Merek-merek Eropa dan Amerika kesulitan bersaing di titik harga yang sama. Hasilnya, konsumen yang diuntungkan, bukan pabrikan.
Ekosistem digitalnya pun semakin matang. Dari aplikasi kesehatan, platform latihan, sampai rekam medis personal, semuanya mulai terhubung ke pergelangan tangan. Perangkat yang awalnya sekadar pelengkap gaya hidup pelan-pelan berubah fungsi jadi alat pemantauan harian yang serius.
Pertanyaannya, sampai kapan pelari pemula bertahan di kelas ini?
Jawabannya cukup jelas dari polanya: kebanyakan baru melirik Garmin atau Coros ketika sudah mengejar target waktu spesifik atau menyiapkan diri untuk lomba. Sebelum sampai tahap itu, wearable murah jadi jembatan. Dan ternyata, jembatan itu cukup kokoh.