Lebih dari 30 ribu kunjungan tercatat di kawasan Bundaran Hotel Indonesia sepanjang malam puncak HUT ke-499 Jakarta, Sabtu (27/6/2026). Kota berpenduduk 10,72 juta jiwa itu merayakan ulang tahunnya dengan cara yang sudah lama tidak terasa: seisi kota turun ke jalan, gratis, dan tertib.
Sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin dikunci dari kendaraan mulai pukul 15.30 hingga 22.00 WIB. Pemandangannya bak HBKB versi malam hari. Pejalan kaki bebas melenggang di aspal tanpa satu pun kendaraan yang melintas. Dari Sarinah sampai Bundaran HI, yang ada hanya lautan manusia.
Tarif Rp 1 berlaku untuk Transjakarta, MRT, dan LRT. Mikrotrans dan Transjakarta Cares bahkan gratis sepenuhnya. Niat baik ini agaknya terlalu sukses: MRT menjadi satu-satunya moda yang bisa menjangkau titik terdekat ke Bundaran HI setelah bus Transjakarta dialihkan jalurnya, dan antrean masuk Stasiun MRT Bundaran HI mengular panjang. Amirullah (35), warga Depok yang datang bersama istri dan lima anaknya, sudah berdiri di antrean 30 menit dan belum juga menyentuh eskalator turun.
Toh, tidak ada yang beranjak. Santi, 50 tahun, datang dari Jatinegara Kaum bersama dua tetangganya, rela jalan kaki dari Halte Monas menuju Bundaran HI. Sampai di depan Hotel Pullman, ia langsung minta foto. Lelah? Tentu. Tapi tidak kelihatan.
Bagi pedagang, ini rezeki. Muhammad Yusuf Ramadhan, 20 tahun, asal Paseban, sudah buka lapak sejak pukul 14.00. Target 150 gelas minuman kekinian per hari, katanya, pasti tercapai sebelum acara tutup. Ia tidak kelihatan ragu.
Panel LCD menerangi trotoar. Monitor interaktif berbasis QR code menayangkan kartun kawasan Bundaran HI lengkap dengan pesan-pesan warga yang berputar mengelilingi bundaran dalam animasi. Proyek MRT yang biasanya riuh alat berat siang-malam ikut berhenti beroperasi, bak hormat kepada kota yang tengah berpesta.
Di panggung utama sisi barat laut, tepat di depan Hotel Grand Hyatt, para musisi silih berganti tampil: Pasming Based, Skarbu, Sania, Mollucan Soul, Cici Paramida, Adrian Khalif, Mahalini, hingga Padi Reborn menutup malam. Saat Fadly melantunkan "Semua Tak Sama", "Mahadewi", dan "Kasih Tak Sampai", ribuan ponsel terangkat serentak. Mobil Gulkarmat yang disiagakan di dekat pos polisi bahkan berubah fungsi dadakan menjadi tribune mini bagi anak-anak, dengan dua petugas mengawasi dari atas.
Tiga pos kesehatan disiagakan. Tiga perempuan sempat dievakuasi petugas BPBD dan Satpol PP setelah hampir pingsan karena dehidrasi dan kekurangan oksigen. Insiden kecil yang, kalau data kerumunan ini bisa dipercaya, hampir tidak mungkin terhindarkan.
Keesokan harinya, Jakarta Penuh Warna edisi kedua mengisi kawasan yang sama. Wakil Gubernur Rano Karno hadir mendampingi Gubernur Pramono Anung. "Alhamdulillah yang sangat berhasil adalah masyarakat Jakarta sudah bisa merapikan diri. Saya surprised, jujur, agak menangis," kata Rano kepada wartawan, Minggu (28/6/2026). Yang membuat Bang Doel terharu bukan sekadar kemeriahan, tapi kedisiplinan warga saat antre di MRT dan memilah sampah. "Yang paling berat adalah melakukan kesadaran sosialisasi memilah sampah dari rumah," tambahnya, sekaligus mengingatkan bahwa mulai Agustus 2026 Bantargebang tidak boleh lagi menerima open dumping.
499 tahun. Satu tahun lagi Jakarta genap lima abad. Entah kebetulan atau tidak, malam Sabtu itu terasa seperti latihan umum sebelum momen yang lebih besar.