Kuartal kedua 2026 resmi jadi milik investor saham AS. S&P 500 ditutup di level 7.499,36 pada Selasa malam waktu setempat, menguat 14,9% sepanjang April-Juni ini, sementara Nasdaq Composite melonjak 21,4% dan Dow Jones naik sekitar 13%. Dow bahkan mencetak penutupan tertinggi sepanjang masa untuk hari kedua berturut-turut, sebuah pencapaian yang, jujur saja, sulit dibayangkan di awal tahun ketika konflik Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan masih membayangi.
Di sesi Selasa (30/6), Dow naik 136,46 poin atau 0,26%, S&P 500 menguat 0,79%, Nasdaq Composite bertambah 1,52%. Pergerakan harian itu terasa moderat, tapi baca sinyal kumulatifnya: ekonomi AS ternyata lebih tangguh dari yang banyak orang perkirakan.
Sektor semikonduktor jadi pahlawan kuartal ini. Indeks saham chip membukukan keuntungan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah, dengan lonjakan harian 3,9% pada sesi Selasa saja. Reli ini bak gayung bersambut dengan momentum AI yang belum reda. Memang, valuasi teknologi terus menggelembung dan investor mulai gelisah, tapi pasar agaknya belum bersedia turun panggung.
"Kami telah menjalani paruh pertama tahun ini dengan sangat baik, tentu lebih baik dari yang diperkirakan kebanyakan orang," kata Oliver Pursche, wakil presiden senior dan penasihat untuk Wealthspire Advisors di Westport, Connecticut. "Terlepas dari semua hal geopolitik, ekonomi AS berkinerja baik dan pendapatan perusahaan kuat."
Soal geopolitik, pasar memang tak bisa sepenuhnya mengabaikannya. Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni untuk mengakhiri konflik empat bulan, tapi baku tembak selama akhir pekan menguji ketahanan kesepakatan itu. Seorang pejabat Qatar menyebut utusan AS yang tiba di Doha tidak jadi menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran. Harga minyak sempat melemah Selasa kemarin karena harapan gencatan senjata berlanjut, sebelum merangkak naik tipis di awal perdagangan Asia.
Namun pasar sudah belajar tidak panik. "Pasar terbukti menjadi mesin penggiling yang tangguh karena terus melaju kuat. Padahal, sebelumnya banyak pihak yang cemas di tengah reli luar biasa ini, yang sempat dihantam aksi jual besar-besaran, perang Iran, dan sejumlah pengaruh eksternal lainnya," ujar JJ Kinahan dari Cboe Global Markets.
Ada kekhawatiran lain yang mulai mencuat menjelang paruh kedua. Pelemahan saham-saham teknologi kelas berat sempat menghantam S&P 500 dan Nasdaq ke zona merah untuk bulan Juni, meski kinerja kuartalan tetap cemerlang. Para ahli strategi Bank of America menyarankan investor mulai melirik sektor-sektor siklikal berorientasi nilai seperti energi dan keuangan sebagai pilihan lebih bijak memasuki H2 2026. Argumennya bisa jadi masuk akal, mengingat valuasi teknologi yang sudah meregang jauh.
Ketidakpastian suku bunga juga belum selesai. Para trader memperkirakan setidaknya satu kenaikan dari Federal Reserve sebelum 2026 berakhir, menurut data LSEG. Sinyal itu cukup untuk menggoyang aset-aset berisiko kalau inflasi kembali menyengat.
Bagi investor Asia, cukup untuk membuka hari dengan optimisme. Kontrak berjangka menunjukkan potensi penguatan di Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong. Pertanyaannya: apakah momentum ini bertahan ketika musim laba kuartal kedua perusahaan-perusahaan S&P 500 mulai bergulir dalam beberapa pekan mendatang?