Untuk pertama kalinya dalam sekitar 150 tahun, wajah tokoh yang masih hidup berpotensi menghiasi uang kertas Amerika Serikat. Bukan tokoh sembarangan: Donald Trump, presiden ke-47 yang sejak awal pemerintahannya di 2025 agaknya tidak pernah kehabisan cara untuk menekankan kehadirannya di ruang publik nasional.
Washington Post pertama kali membongkar rencana ini pada akhir Mei 2026. Berselang sehari, Menteri Keuangan Scott Bessent membenarkannya di depan wartawan. "Saat ini ada usulan legislasi, di DPR dan Senat, untuk mengubah persyaratan sehingga seseorang yang masih hidup, Donald J. Trump, bisa muncul di uang kertas $250," kata Bessent. Ia menilai tidak ada yang keliru jika presiden yang sedang menjabat tampil di uang peringatan 250 tahun kemerdekaan AS.
Angkanya bukan kebetulan. Pecahan $250, sekitar Rp3,7 juta, dirancang sebagai uang kertas edisi peringatan untuk merayakan ulang tahun ke-250 Deklarasi Kemerdekaan AS pada 4 Juli tahun ini. Rancangan undang-undangnya diajukan tahun lalu oleh anggota DPR Joe Wilson, Republikan dari South Carolina. Desain internal yang bocor ke media menampilkan tulisan "America 250 Anniversary", wajah Trump di bagian tengah, disertai tanda tangannya dan tanda tangan Bessent.
Tapi jalannya tidak mulus. Tiga lapis hambatan hukum menghadang sekaligus: undang-undang federal secara tegas melarang pencetakan wajah orang yang masih hidup pada mata uang, hukum yang mengatur denominasi yang boleh diproduksi tidak mencantumkan angka $250 sama sekali, dan uang kertas baru biasanya butuh waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan, melibatkan Federal Reserve Board hingga US Secret Service. Tiga hambatan, satu tekad.
Pemerintahan Trump rupanya tidak terlalu sabar menunggu proses itu. Dua pejabat penunjukan Trump di Departemen Keuangan dilaporkan sudah mulai mendesak staf Bureau of Engraving and Printing (BEP) untuk menyiapkan prototipe desain, bahkan sebelum ada tindakan resmi dari Kongres. Sejumlah pegawai BEP yang berbicara anonim mengaku khawatir rencana itu sudah menyentuh batas pelanggaran hukum. Direktur BEP Patricia Solimene pun disebut sempat menolak dan memperingatkan pejabat senior soal hambatan prosedural ini. Tidak lama kemudian, Solimene dipindahkan dari jabatannya.
Departemen Keuangan bergeming. Juru bicaranya menyatakan lembaga tersebut "sedang melakukan perencanaan dan uji tuntas yang sesuai" sebagai respons atas proposal legislasi, sambil menegaskan bahwa Bendahara AS Brandon Beach belum secara resmi memerintahkan pencetakan sebelum ada mandat dari Kongres.
Dari kubu Demokrat, reaksinya keras. Senator Mark Warner dari Virginia, anggota Komite Perbankan Senat, menyebut rencana ini sebagai pemerintah yang secara terang-terangan "memuaskan ego presiden". "Ketika warga Amerika susah payah menghadapi kenaikan harga bensin, bahan makanan, perumahan, dan perawatan kesehatan, prioritas Trump untuk penggunaan dana pembayar pajak benar-benar tidak menyentuh tantangan yang dihadapi keluarga setiap hari," kata Warner dalam pernyataannya. Ia bahkan menyindir: kalau energi yang sama diarahkan untuk menekan biaya hidup, keluarga Amerika tidak akan butuh uang kertas $250 baru hanya untuk mengisi tangki bensin.
Uang kertas bergambar Trump bukan satu-satunya proyek berbau personal branding ini. Tanda tangannya sudah dijadwalkan muncul di uang kertas AS secara umum. Koin emas peringatan "Semiquincentennial Gold Coin" berlapis 24 karat yang mencantumkan wajahnya sudah disetujui oleh Komisi Seni Rupa AS. Kennedy Center kini menyertakan nama Trump. Wajahnya terpampang di spanduk Departemen Kehakiman dan Departemen Pertanian. Paspor AS pun disebut akan segera menyusul. Bak katalog identitas satu orang yang dikemas jadi simbol negara.
Uang kertas $100 bergambar Benjamin Franklin, bapak pendiri AS, masih menjadi pecahan terbesar yang beredar saat ini. AS memang pernah menerbitkan pecahan $500 hingga $10.000, tapi semuanya dihentikan pada 1969 dan kini hanya jadi incaran kolektor. Pertanyaannya sederhana: apakah pecahan $250 bergambar presiden yang masih hidup bisa lahir sebelum 4 Juli? Kalau data ini bisa dipercaya, jalan ke sana masih panjang. Dan tidak sedikit yang mempertanyakan apakah ini soal peringatan kemerdekaan, atau sekadar monumen pribadi.