Hampir 68.000 kasus penyelundupan, penipuan dagang, dan peredaran barang palsu berhasil diungkap aparat Vietnam sepanjang semester pertama 2026. Angka yang tidak bisa dianggap enteng, apalagi ini melonjak 36,66% dibanding periode yang sama tahun lalu. Lompatan yang cukup untuk bikin siapa pun bergidik.
Data itu dipresentasikan dalam Konferensi Nasional Komite Pengarah 389, lembaga yang mengkoordinasikan perang Vietnam melawan penyelundupan dan penipuan komersial. Total penerimaan negara dari penindakan ini menembus angka 9.600 miliar VND lebih, sekitar Rp6,1 triliun, naik 49,36% secara tahunan. Aparat juga memulai proses hukum terhadap 1.676 kasus yang menyeret 2.789 individu.
Yang paling menyita perhatian bukan sekadar volumenya, melainkan eskalasi cara bermainnya. Di jalur darat sepanjang perbatasan Vietnam-China, Laos, dan Kamboja, jaringan penyelundup rokok, petasan, dan minuman keras impor kini beroperasi dengan sistem berlapis: barang dipecah jadi paket-paket kecil, ditimbun di gudang dekat perbatasan, lalu diangkut bertahap ke pedalaman menggunakan bus antarkota dan kendaraan logistik komersial. Pengintai disebar di sepanjang jalan raya nasional. Pergerakan aparat dipantau secara real-time lewat grup Telegram, Zalo, dan WeChat.
Di jalur udara, situasinya tidak kalah pelik. Bandara Noi Bai, Da Nang, Cam Ranh, dan Tan Son Nhat semuanya masuk radar pengawasan. Taktik terbaru yang diidentifikasi: dasar koper diperkuat untuk menyembunyikan emas, logam mulia dilebur lalu dicetak menyerupai komponen elektronik dan mekanik, atau disembunyikan di dalam perangkat elektronik. Agaknya para pelaku ini cukup paham bahwa petugas bea cukai pun butuh waktu ekstra untuk mengidentifikasi sesuatu yang bentuknya sudah berubah total.
Ruang digital jadi medan perang baru yang bahkan lebih rumit ditangani. Facebook, TikTok, Shopee, hingga siaran langsung dimanfaatkan untuk menjual barang selundupan dan palsu dalam skala masif. Para pelaku tidak membuka toko fisik, melainkan menyewa apartemen sebagai gudang, bertransaksi penuh secara online, memakai rekening bank orang lain, dan menggunakan ojek online sebagai kurir. Yang paling mengkhawatirkan: teknologi AI dan deepfake dipakai untuk memanipulasi gambar dokter dan selebriti demi iklan suplemen, kosmetik, serta obat-obatan palsu.
Wakil Perdana Menteri Pham Gia Tuc, yang menutup konferensi itu, mengakui capaian aparat sekaligus mengingatkan bahwa ini bukan sprint, melainkan maraton panjang. Ia menekankan perlunya transformasi digital dan integrasi data antar lembaga penegak hukum, khususnya untuk menghadapi penyelundupan di ekosistem e-commerce yang terus berevolusi. Satu poin lain yang ia tegaskan: tidak ada toleransi bagi pejabat yang terlibat atau menutup mata atas praktik ilegal ini.
Komite Pengarah 389 secara khusus mengklasifikasikan ruang siber sebagai area paling kompleks saat ini, klaim yang masih perlu dibuktikan lewat efektivitas penindakan nyata di lapangan. Dari hampir 68.000 kasus yang ditangani, lebih dari 57.000 di antaranya adalah penipuan dagang dan penggelapan pajak. Pelanggaran hak kekayaan intelektual menyumbang lebih dari 5.700 kasus, sementara sekitar 5.200 sisanya adalah penyelundupan dan pengangkutan barang terlarang secara langsung.
Bagi pelaku pasar yang memonitor Vietnam sebagai mitra dagang maupun destinasi investasi, pola ini layak dicermati. Biaya ilegal yang besar dan jaringan yang terorganisasi rapi mengindikasikan bahwa distorsi harga di sejumlah komoditas, emas, rokok, makanan olahan, bisa jadi lebih dalam dari yang terlihat di permukaan. Pertanyaannya, berapa lama aparat bisa menjaga momentum ini sebelum jaringan penyelundup menemukan celah baru?