Kredit perbankan Vietnam per 26 Juni 2026 sudah menembus 19,97 juta miliar VND, tumbuh 7,41% sejak awal tahun dan melonjak 18,1% dibanding periode yang sama tahun lalu. Bukan angka kecil, terutama jika kita ingat betapa rumitnya lanskap ekonomi global yang dihadapi Hanoi sejak awal 2026: ketegangan geopolitik yang membara, konflik di Timur Tengah, volatilitas energi, dan tren pengetatan moneter di sejumlah bank sentral yang seolah bergerak berlawanan arah dari apa yang coba dilakukan otoritas Vietnam.
Wakil Gubernur Bank Negara Vietnam Pham Thanh Ha mengakui tekanan itu besar. Tapi Vietnam memilih jalur berbeda dari banyak tetangganya: suku bunga kebijakan dipertahankan, sementara bank-bank komersial didorong kompak memangkas bunga pinjaman. Komitmen itu dikunci lewat pertemuan antara Bank Negara Vietnam dan bank-bank komersial pada 9 April 2026, di mana disepakati penurunan bunga deposito untuk tenor enam bulan ke atas, seiring pelonggaran bunga kredit. Satu tujuan: modal lebih mudah dijangkau pelaku usaha.
Target pertumbuhan kredit tahun ini dipatok sekitar 15%, meski ada ruang penyesuaian sesuai kondisi aktual. Angka ini bukan sembarangan dipilih. Ada keseimbangan yang dijaga: pertumbuhan harus cukup kencang untuk mendorong ekonomi, tapi tidak sampai memicu inflasi yang ditargetkan di kisaran 4,5%. Soal inflasi, Vietnam agaknya tidak ingin mengulang pengalaman pahit beberapa tahun lalu.
Di luar angka agregat, sejumlah program kredit sektoral mencatat kinerja yang patut disimak. Program kredit pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan plafon 185.000 miliar VND sudah mencairkan 219.000 miliar VND hingga akhir Mei, atau 118,4% dari targetnya. Lebih dari 79.900 nasabah tercatat menerima manfaat. Program pinjaman beras berkualitas tinggi dan rendah emisi di Delta Mekong juga menyalurkan sekitar 4.200 miliar VND dalam dua belas bulan pertama pelaksanaannya.
Untuk segmen perumahan sosial, sembilan bank komersial bergabung dengan komitmen total 145.000 miliar VND. Realisasi pencairannya masih 12.440 miliar VND per akhir Mei, dengan pinjaman beredar di angka 10.175 miliar VND. Program khusus untuk kaum muda di bawah 35 tahun yang ingin membeli hunian sosial juga sudah berjalan, meski skalanya masih relatif kecil, yakni 383 miliar VND.
Di lapangan, kebijakan ini terasa sampai ke akar. Cabang Regional 14 Bank Negara Vietnam di Can Tho, misalnya, turun langsung menemui para eksportir beras untuk memetakan kebutuhan kredit mereka. Langkah itu mencerminkan pergeseran yang tengah didorong dari atas: dari pola manajemen administratif konvensional menuju tata kelola yang lebih berorientasi pembangunan, dengan bank sebagai mitra pertumbuhan, bukan sekadar penyalur dana.
Front digital? Tidak kalah menarik. Dalam lima bulan pertama 2026, transaksi internet perbankan melonjak 52,82%, mobile banking naik 33,60%, dan transaksi QR code terkerek hampir 40% dari sisi nilai. ATM terus menyusut. Sistem antipenipuan SIMO sudah menghentikan lebih dari 1,5 juta transaksi mencurigakan senilai di atas 5,2 triliun VND, setidaknya itu angka yang dilaporkan otoritas.
Pertanyaannya, bisakah Vietnam mempertahankan laju kredit 15% sekaligus menjaga inflasi di bawah 4,5% jika tekanan eksternal kembali menguat di semester kedua? Kalau data semester pertama ini bisa dipercaya sebagai sinyal, jawabannya bisa jadi iya. Tapi ujian sesungguhnya belum datang.