Angka 11,9 persen bukan target sembarangan. Itulah laju pertumbuhan PDB yang harus dicapai Vietnam pada paruh kedua 2026 jika ingin menggenapi ambisi pertumbuhan tahunan sekitar 10 persen, patokan resmi Hanoi setelah pemerintah memperbarui skenario ekonominya akhir Juni ini.
Konteksnya perlu dipahami dulu. Pada kuartal I-2026, ekonomi Vietnam tumbuh 7,83 persen secara tahunan, melambat dari 8,46 persen di kuartal IV-2025. Melambat, tapi masih ditopang tiga pilar: manufaktur, konstruksi, dan jasa. Ekspor melesat 19,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara realisasi investasi asing langsung (FDI) menyentuh 5,41 miliar dolar AS, naik 9,1 persen. Arus modal itu, bisa jadi, bukan semata cermin kepercayaan investor, melainkan juga efek diversifikasi rantai pasok global yang bergeser dari Tiongkok.
Untuk menutup gap antara realisasi semester pertama dan target tahunan, Hanoi menyusun dua skenario. Skenario dasar membidik pertumbuhan tahunan sekitar 10 persen; skenario kedua menyiapkan amunisi kebijakan lebih agresif jika kondisi domestik dan global mendukung. Keduanya jadi acuan kebijakan fiskal, moneter, investasi, dan perdagangan hingga Desember.
Percepatan pencairan investasi publik, penyelesaian proyek infrastruktur strategis di sektor transportasi, logistik, energi, dan transformasi digital, serta pemangkasan prosedur perizinan yang selama ini jadi keluhan dunia usaha, semuanya masuk dalam daftar instruksi. Otoritas juga diminta menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, dua variabel yang sering jadi tumbal pertama saat pemerintah ngegas belanja.
Data pertumbuhan regional yang dirilis bersamaan justru menghadirkan cerita yang lebih segar. Dari 34 provinsi dan kota yang sudah melapor estimasi PDB semester pertama, banyak daerah industri skala menengah tumbuh di atas 10 persen, melampaui dua mesin ekonomi utama negara itu. Hai Phong memimpin dengan 12,42 persen, disusul Ninh Binh 12,04 persen dan Ha Tinh 12,02 persen. Kota Ho Chi Minh hanya membukukan 8,47 persen dan menempati peringkat ke-16, sementara Hanoi bahkan lebih lambat di 7,87 persen, peringkat ke-24.
Bukan anomali. Ini sinyal bahwa momentum pertumbuhan Vietnam sedang menyebar ke daerah-daerah dengan keunggulan di industri manufaktur, logistik, dan daya tarik investasi. Kota Hue, misalnya, mencatat estimasi pertumbuhan 9,22 persen di semester pertama, menempati peringkat ke-11 secara nasional dan secara mengejutkan melampaui kedua kota besar itu. Sektor industri dan konstruksi di Hue terkerek 12,25 persen, dengan manufaktur dan pengolahan melesat 16,77 persen. Agaknya bukan kebetulan bahwa daerah-daerah dengan basis pabrik yang kuat justru tumbuh paling kencang di era relokasi rantai pasok ini.
Untuk mempertahankan posisi itu, Hue perlu tumbuh 13,31 persen di sektor industri dan konstruksi sepanjang tahun penuh, dan 9,3 persen di sektor jasa, agar bisa menggenapi target tahunan 10,02 persen. Ambisius, tapi angka semester pertama setidaknya memberi fondasi yang tidak tipis.
Tantangan eksternal tetap nyata. Pemerintah Vietnam sendiri mengakui risiko dari perlambatan ekonomi global, ketegangan perdagangan, dan dinamika geopolitik yang bisa memukul permintaan ekspor. Pertanyaannya: berapa lama bantalan itu bertahan kalau sentimen global memburuk di kuartal ketiga? Klaim bahwa target dua digit tetap terjangkau, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, masih perlu dibuktikan. Tapi peta pertumbuhan regional Vietnam hari ini menunjukkan satu hal yang sulit dibantah: negara ini tidak lagi bergantung pada satu atau dua kota untuk berlari kencang.