Video berdurasi 13 detik itu sudah dibagikan ribuan kali sebelum ada yang repot-repot mengecek asal-usulnya. Isinya memperlihatkan Donald Trump dipapah oleh anggota US Secret Service, dengan klaim yang menempel: sang presiden baru saja mengalami stroke akibat "kalah strategi perang" melawan Iran.
Salah semua. Penelusuran menggunakan Google Reverse Image dan Hive Moderation memastikan klip tersebut berasal dari insiden penembakan di rally kampanye Trump di Pennsylvania, 2024. Momen Trump dipapah petugas pengamanan kala itu adalah prosedur standar pasca-insiden. Bukan respons terhadap pecahnya pembuluh darah di otak, tidak ada kaitan apa pun dengan Iran, dan tidak ada manipulasi AI di dalamnya.
Gedung Putih tidak pernah mengeluarkan pernyataan soal kondisi kesehatan Trump terkait klaim ini. Tim medis kepresidenan AS pun bungkam, karena memang tidak ada yang perlu dikonfirmasi. Media internasional yang kredibel juga tidak menyentuh narasi itu sebagai fakta. Yang ada hanyalah video lama yang dikosongkan konteksnya, lalu diisi ulang dengan cerita baru.
Pola semacam ini bukan fenomena baru. Aribowo Sasmito, Fact-check Analyst Mafindo, menyebut hoaks memang sengaja "menumpang" isu yang sedang panas diperbincangkan publik. "Karena buat apa bikin hoaks kalau orang enggak lagi memerhatikan, artinya debatnya enggak sebanyak kalau ada sesuatu yang lagi diperhatikan masyarakat," kata Aribowo saat diwawancarai DW Indonesia. Ia menambahkan bahwa dalam situasi viral, emosi pengguna media sosial kerap mengalahkan nalar verifikasi. "Walaupun mungkin orang tahu bahwa sumbernya tidak jelas, kita mana tahu kalau Trump benar strok atau tidak. Jadi memang ujung-ujungnya kembali ke aspek dasar bahwa manusia itu sering tergocek emosinya," lanjut Aribowo.
Tantangannya kian berat. Rizal Nova Mujahid, analis dari Drone Emprit, menilai perkembangan teknologi AI justru memperumit kemampuan publik membedakan konten asli dari manipulasi digital. "Image atau video yang diproduksi oleh AI semakin baik dan semakin secure, kalau dilihat sekilas menjadi semakin susah untuk dikenali," kata Nova kepada DW Indonesia. Ia menekankan bahwa publik kini semakin bergantung pada transparansi kreator konten dan komitmen platform digital. "Kita bergantung pada kemauan kreator konten untuk melabeli ini sebagai hasil AI atau tidak AI, sehingga kita bisa langsung mengenali hoaks atau enggak. Lalu juga strategi berikutnya adalah meminta pemerintah untuk mendorong agar hal-hal seperti ini diverifikasi oleh platform-nya," ujar Nova.
Video Trump ini tidak sendirian. Konten seputar konflik Iran hingga rekaman pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden Putin berulang kali dijadikan bahan baku hoaks, bak gayung bersambut dengan besarnya atensi publik terhadap isu-isu tersebut. Semakin besar sorotan, semakin lezat konteks itu untuk dimanipulasi.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah video itu hoaks. Yang lebih mengganggu: seberapa cepat konten serupa berikutnya akan muncul, dan apakah platform serta pemerintah punya nyali untuk bergerak lebih cepat dari para pembuatnya.