Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, mengirim surat langsung kepada Raja Charles III, mendesak Inggris segera mengembalikan cadangan emas milik Venezuela yang bertahun-tahun dibekukan di Bank of England. Alasannya mendesak: bencana gempa bumi yang baru saja memporakporandakan negeri itu.
Bersamaan dengan itu, Rodriguez juga berkoordinasi dengan Dana Moneter Internasional untuk membuka jalan bagi pelepasan aset yang sudah lama tertahan. Dua front sekaligus. Tekanan ke London, tekanan ke Washington.
Sengketa emas ini bukan cerita baru. Pangkalnya bermula dari krisis politik bertahun-tahun lalu, ketika pengakuan internasional atas pemerintah Caracas terbelah. Inggris, bersama sejumlah negara Barat lain, mempersoalkan legitimasi rezim yang berkuasa, dan itu berujung pada pembekuan aset yang nilainya ditaksir mencapai miliaran dolar.
Kini Caracas mencoba membuka celah itu lewat jalur kemanusiaan. Argumen gempa bumi, kalau bisa dipercaya akan dipakai murni untuk korban bencana, memang lebih sulit ditolak ketimbang lobi politik biasa. Tapi entah kebetulan atau tidak, momentum ini datang persis saat Venezuela butuh valuta keras dalam jumlah besar. Pertanyaannya sederhana: apakah London akan tergoyahkan?
Bagi yang mencermati pasar negara berkembang, dinamika ini layak diikuti. Pencairan aset berskala besar bisa mengubah postur fiskal Venezuela secara cukup drastis, sekalipun kondisi ekonomi negara itu sudah lama menyerupai bencana tersendiri.