Tiga ribu tiga ratus empat puluh dua. Angka itu bukan statistik biasa, melainkan jumlah nyawa yang sudah resmi dikonfirmasi hilang akibat gempa ganda yang menghantam Venezuela pada 24 Juni lalu. Dan hitungan itu belum selesai.
Sebelas hari setelah dua gempa bumi bermagnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang wilayah pesisir utara Venezuela, Kementerian Informasi negara itu merilis angka korban terbaru per Minggu (5/7/2026): 3.342 jiwa meninggal, 16.470 orang terluka. Belum ada angka resmi soal warga hilang. PBB memperkirakan sekitar 50.000 orang belum berhasil ditemukan, dan sebagian tim penyelamat internasional sudah mulai mengemas perlengkapan mereka.
Fokus di lapangan kini bukan lagi mencari korban selamat. Di pemakaman La Esperanza, Provinsi La Guaira, ekskavator menggali tanah untuk menguburkan lebih dari 150 jenazah tak teridentifikasi dalam satu hari. Setiap nisan mencatat tanggal yang sama: 24 Juni 2026. "Yang paling kami rasakan adalah duka yang mendalam. Kami mulai bekerja di sini sehari setelah bencana agar semua korban bisa dimakamkan secara layak," ungkap Eli Zavala, warga yang ikut membantu prosesi pemakaman massal itu.
Warga Caracas dan La Guaira memilih gereja sebagai tempat berteduh dari kesedihan. Puluhan orang berkumpul untuk doa bersama di Universitas Pusat Venezuela. Pastor Rafael Troconis, yang bertugas di La Guaira, bercerita betapa beratnya kondisi jemaatnya. "Saya bertemu dengan pasangan yang kehilangan kedua anak mereka atau dua dari tiga anak mereka. Sangat menyakitkan. Anda melihat banyak kesedihan dan keputusasaan," kata Troconis.
Di Distrik Catia la Mar, seorang ibu bernama Zuly masih tidur di sebuah plaza dekat tempat anaknya terakhir bekerja. Kelelahan, tapi tidak bergerak. Ia menemukan sepeda motor dan helm putranya di reruntuhan. Cukup baginya untuk tetap bertahan di sana. "Saya tidak akan pergi dari sini tanpa putra saya," tegasnya.
Bahkan ketika jenazah berhasil ditemukan, penderitaan belum tentu berakhir. Kapasitas kamar mayat di sejumlah rumah sakit La Guaira sudah kolaps. Dokter sukarelawan melaporkan jenazah terpaksa ditinggal di jalanan karena tidak ada ruang. Rosa Lopez harus melewati proses panjang hanya untuk bisa memakamkan menantunya, Jose Antonio Toledo, 25 tahun, yang ditemukan di bawah reruntuhan. Jenazah Toledo ditolak rumah sakit, dipindahkan ke tempat parkir terbuka, baru ditemukan kembali beberapa hari kemudian dengan bantuan dokter forensik. Biaya pemakaman 450 dolar AS, setara Rp 8,1 juta. Di luar kemampuan keluarganya, sampai kantor wali kota menawarkan pemakaman gratis. "Dia sosok yang patut dicontoh, seorang laki-laki yang suka membantu orang lain," kata Lopez.
PBB menaksir kerugian akibat bencana ini sedikitnya 6,7 miliar dolar AS, setara sekitar 6 persen dari PDB Venezuela. Hampir 200 bangunan rata dengan tanah, mayoritas di kawasan La Guaira, termasuk bandara internasional yang melayani Caracas. Lebih dari 17.000 orang kini tinggal di tenda dan penampungan darurat. Angka yang tidak main-main.
Venezuela memasuki krisis ini dalam kondisi yang sudah compang-camping. Infrastruktur dan layanan kesehatan yang lama terbengkalai akibat gejolak ekonomi dan politik bertahun-tahun menjadi faktor yang memperparah dampak bencana. Negara ini kini berada di bawah kendali Presiden Interim Delcy Rodriguez, yang naik menggantikan Nicolas Maduro setelah Maduro diculik militer AS atas perintah Presiden Donald Trump pada Januari 2026.
Respons pemerintah terhadap bencana sejak hari pertama dikritik habis-habisan. Warga mengaku harus menggali reruntuhan sendiri sambil menunggu bantuan internasional tiba. Rodriguez membela diri, mengklaim pemerintah langsung mengerahkan ribuan aparat dan membentuk unit militer khusus untuk kedaruratan. Dalam upacara militer Minggu kemarin yang bersamaan dengan peringatan kemerdekaan Venezuela ke-215, ia menepis kekhawatiran akan kerusuhan sosial. "Tidak akan ada kerusuhan sosial di sini, yang kita miliki adalah solidaritas sosial yang mendalam," klaimnya. Rodriguez juga menuding para kritikus berupaya menyerang institusi negara. "Saat ini sedang ada upaya untuk menyerang lembaga-lembaga Venezuela. Tidak boleh ada ruang untuk konspirasi apa pun, internal atau eksternal, dari mana pun asalnya," ucapnya.
Satu hal lain membayangi duka Venezuela: video viral di media sosial yang mengklaim memperlihatkan langit berubah merah menyala disertai kilatan petir setelah gempa ternyata rekayasa AI. Tim verifikasi mengecek video itu menggunakan dua platform, Hive Moderation dan Sightengine. Hive mendeteksi probabilitas manipulasi AI sebesar 99,7 persen, Sightengine 99 persen. Video aslinya berasal dari akun YouTube yang memang kerap mengunggah konten sintetis.
Langit Venezuela memang sempat memerah pada 30 Juni malam, tapi fenomena itu punya penjelasan ilmiah: candilazo, hamburan cahaya Rayleigh saat Matahari terbenam, yang intensitasnya meningkat karena debu Gurun Sahara yang terbawa angin Atlantik ke wilayah tersebut. Tidak ada kaitan dengan gempa. Kalau data ini bisa dipercaya, disinformasi semacam ini agaknya hanya menambah beban yang sudah sangat berat bagi negara yang sedang berduka.