SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  VAR dan Injury Time Jadi Penentu Nasib di Piala Du...

Finansial

VAR dan Injury Time Jadi Penentu Nasib di Piala Dunia 2026

Portugal lolos dramatis ke 16 besar usai gol injury time Goncalo Ramos dan bantuan VAR yang anulir gol Kroasia. Babak gugur Piala Dunia 2026 sejauh ini membuktikan 90 menit saja tak cukup untuk menentukan siapa yang pulang.

Drama-drama Menit Akhir

Menit ke-90+16. Josko Gvardiol sudah merayakan, ribuan suporter Kroasia sudah berdiri, dan seisi Toronto Stadium seolah bersiap menyaksikan perpanjangan waktu. Tapi bola di Piala Dunia 2026 punya sensor, dan sensor itu tidak bisa berbohong.

VAR memutuskan gol Gvardiol tidak sah. Bola hasil umpan silang Ivan Perisic sempat menyentuh rambut Igor Matanovic sebelum mengenai kepala Renato Veiga dan diteruskan Mario Pasalic. Saat Matanovic menyentuh bola, Pasalic sudah berada dalam posisi offside. Sentuhan Veiga dianggap tidak disengaja, sehingga offside Pasalic tetap berlaku. Hasil akhir: 2-1 untuk Portugal, Kroasia pulang.

Sebelum drama itu, laga di Toronto sudah cukup menegangkan. Kroasia membuka keunggulan melalui Perisic pada menit ke-53. Portugal yang tertekan akhirnya mendapat penalti, dan Cristiano Ronaldo menyelesaikannya dengan tenang pada menit ke-68 untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Gol penentu datang dari kepala Goncalo Ramos pada menit ke-90+4, sebelum babak VAR di penghujung laga menutup segala harapan Kroasia.

Laga Portugal lawan Kroasia hanyalah satu dari serangkaian pertandingan babak 32 besar yang seolah dirancang untuk membuat penonton tidak berani beranjak dari layar. Piala Dunia 2026 memang tidak main-main soal drama menit akhir. Bukan sekali. Bukan dua kali.

Belgia, misalnya, sempat dihajar 0-2 oleh Senegal berkat gol Habib Diarra di menit ke-24 dan Ismaila Sarr di menit ke-51. Banyak yang sudah menganggap Les Diables Rouges tamat. Ternyata belum. Romelu Lukaku memperkecil jarak pada menit ke-86, lalu kapten Youri Tielemans menyamakan di menit ke-89. Masih belum cukup. Tielemans kembali muncul dari titik putih pada menit ke-120+5 untuk memastikan kemenangan Belgia di pengujung babak perpanjangan waktu, dalam situasi yang masih menuai pro dan kontra soal legitimasi penaltinya.

Brasil pun tidak luput. Carlo Ancelotti membawa Tim Samba ke fase gugur, tapi Jepang tidak datang untuk sekadar jadi pelengkap. Kaishu Sano menggebrak dengan solo run spektakuler pada menit ke-29 untuk membuka keunggulan. Brasil baru merespons di menit ke-56 lewat tandukan Casemiro. Ketika injury time tiba dan semua orang bersiap untuk babak tambahan, Gabriel Martinelli yang masuk dari bangku cadangan melepaskan tembakan terukur di menit ke-90+5. Brasil menang, Jepang pulang dengan kepala tertunduk.

Pertanyaannya, mana tim yang paling kena tampar malam itu? Agaknya Jerman punya jawaban paling pahit.

Jerman mengalami sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah mereka di Piala Dunia: kalah adu penalti. Sebelum lawan Paraguay ini, empat kali Die Mannschaft masuk drama tos-tosan di Piala Dunia, empat kali mereka menang. Rekor itu kini runtuh. Paraguay menang 4-3 lewat adu penalti setelah skor 1-1 bertahan hingga 120 menit, ditambah kontroversi gol Jonathan Tah yang dianulir VAR di menit ke-102 karena dianggap ada pelanggaran Waldemar Anton pada kiper Paraguay Orlando Gill sebelum sundulan masuk. Kalau data dari lapangan bisa dipercaya, kontak yang terjadi diklaim sangat minim, entah kebetulan atau tidak wasit tetap menganulirnya.

Dari Toronto hingga Houston, satu hal yang konsisten: peluit akhir benar-benar menjadi batas terakhir sebuah harapan. Portugal selanjutnya menanti Spanyol di babak 16 besar, dalam duel sesama Semenanjung Iberia yang agaknya tidak akan kalah panas dari apa yang sudah kita saksikan.