Selat Hormuz kini relatif tenang. Washington ingin mempertahankan ketenangan itu, dan tidak semua caranya melibatkan ancaman senjata.
Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan jaminan terbuka bahwa pemerintahan Donald Trump tidak akan mengerahkan kembali personel militer ke kawasan Timur Tengah kecuali memang dinilai perlu. Di balik pernyataan itu ada sinyal yang cukup terang: Washington, setidaknya untuk saat ini, lebih memilih jalur diplomasi ketimbang eskalasi.
"Apa yang dapat saya jaminkan adalah presiden tidak akan mengerahkan kembali personel kita kecuali jika dinilai perlu," kata Vance, dikutip dari Anadolu, Kamis (2/7/2026). Ia juga menyebut AS tengah berjuang keras agar negosiasi yang berlangsung di Doha, Qatar, punya "peluang sebesar-besarnya untuk berhasil."
Tapi ada batasnya. Opsi militer tidak dicopot dari meja.
Vance secara eksplisit menyebut dua skenario yang akan memaksa Washington mengubah kalkulasinya: jika Iran kembali menghidupkan program nuklir, atau jika Teheran mulai menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Ia mengingatkan bahwa selama beberapa pekan terakhir Iran memang tidak menyentuh tanker minyak yang melintas, dan itu bukan kebetulan. "Terkadang Anda perlu menggunakan pendekatan wortel dan tongkat dalam masalah ini," kata Vance, dengan nada yang agaknya lebih pragmatis dari sekadar retorika diplomatik biasa.
Dua utusan khusus Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, kini mengawal negosiasi di Doha yang berpusat pada penghapusan program nuklir Iran. Trump mengaku optimistis soal perkembangan pembicaraan ini. Klaim yang masih perlu dibuktikan, kalau data ini bisa dipercaya, mengingat Teheran secara resmi membantah adanya komunikasi langsung dengan pihak AS. Seluruh pembicaraan, menurut Iran, masih melewati perantara ketiga.
Vance juga menyebut AS menerima "sinyal positif dan negatif" dari Teheran sepanjang proses negosiasi, indikasi bahwa jalan menuju kesepakatan komprehensif masih berliku. Soal dinamika internal Iran, ia mencatat ada pergeseran: sebagian kalangan mulai menginginkan reformasi kebijakan besar-besaran. "Kami pikir kami sedang melihat momentum bagi masyarakat di sana yang berupaya membuka halaman baru," kata dia. Kelompok konservatif yang berpegang pada prinsip lama, tambah Vance, belum kemana-mana.
Konteksnya perlu dipahami. Kesepakatan awal antara AS dan Iran tercapai pada Juni lalu, mengakhiri konflik bersenjata yang pecah sejak Februari. Dari sanalah Selat Hormuz kembali dibuka untuk lalu lintas perdagangan internasional, sementara AS setuju menyudahi pemboikotan ekonomi terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Bagi pelaku pasar yang was-was soal stabilitas jalur energi, pernyataan Vance hari ini cukup untuk menurunkan satu tingkat kecemasan. Harga minyak global punya sensitivitas tinggi terhadap setiap gesekan di Hormuz. Entah kebetulan atau tidak, pernyataan ini muncul justru ketika hubungan AS-Iran menunjukkan tanda-tanda paling konstruktif dalam beberapa tahun terakhir. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bisa bertahan sebelum salah satu pihak bergerak keluar dari skrip?