RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  USS Gerald R. Ford Pulang, tapi Perang Iran Belum...

Internasional

USS Gerald R. Ford Pulang, tapi Perang Iran Belum Selesai

Kapal induk termahal dan tercanggih AS kembali ke Virginia setelah penugasan hampir setahun, menorehkan misi terpanjang sejak Vietnam, meski target utama di Iran belum tuntas.

USS Gerald R Ford Pulang Kampung setelah Tugas Terlama sejak Perang Vietnam

Sabtu (16/5) waktu Virginia, ribuan pelaut USS Gerald R. Ford akhirnya menginjakkan kaki di daratan setelah hampir 12 bulan di laut. Kepulangan ini bukan sekadar akhir misi biasa. Ini penugasan operasional terlama kapal induk AS sejak Perang Vietnam berakhir, dengan harga yang tidak murah, baik secara harfiah maupun strategis.

Kapal senilai US$13 miliar, sekitar Rp208 triliun, itu menjadi ujung tombak ambisi militer Presiden Donald Trump di dua zona panas sekaligus. Di Venezuela, pesawat dari dek Ford berpartisipasi dalam operasi penangkapan mantan Presiden Nicolás Maduro pada Januari lalu. Di Timur Tengah, kapal ini berfungsi sebagai platform utama pengiriman jet tempur dalam operasi perang melawan Iran. Dua front berbeda, satu kapal induk.

Keunggulan Ford dibanding 10 kapal induk AS lainnya terletak pada sistem ketapel elektronik yang mampu meluncurkan segala jenis armada udara, dari drone ringan hingga jet tempur berat. Di atas kertas, inilah kapal perang paling mematikan yang pernah dibangun manusia. Di atas lautan nyata, ceritanya agak berbeda.

Maret lalu, kebakaran hebat melanda area binatu kapal. Butuh sekitar 30 jam bagi kru untuk memadamkan api, membersihkan lokasi, dan memastikan tidak ada bara tersisa. Sekitar 600 pelaut kehilangan akses ke tempat tidur akibat kerusakan infrastruktur. Belum cukup, kapal juga sempat dihajar masalah sistem toilet yang memaksanya merapat ke pelabuhan untuk perbaikan darurat. Canggih di spesifikasi, ringkih di logistik.

Sementara Ford pulang, perang laut di kawasan Timur Tengah justru semakin pelik. USS George HW Bush, kapal induk ketiga yang dikerahkan AS ke kawasan itu, terpaksa berlayar memutar jauh melewati perairan Afrika Selatan untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Iran atau proksinya. Rute Laut Merah dan Selat Bab Al Mandeb, yang berulang kali jadi target serangan Houthi, sepenuhnya dihindari. George HW Bush terakhir terpantau beroperasi di lepas pantai Namibia, mengelilingi benua Afrika demi keamanan, sebelum bergabung dengan armada AS di Laut Arab.

Blokade laut AS terhadap seluruh lalu lintas maritim dari dan menuju pelabuhan Iran, termasuk di Teluk Persia dan Teluk Oman, resmi berlaku sejak Senin, 13 April 2026 pukul 14.00 GMT. Komando Pusat AS menegaskan blokade diberlakukan secara imparsial terhadap kapal dari negara mana pun. Bersama Ford dan USS Abraham Lincoln, George HW Bush menjadikan ini pengerahan tiga kapal induk sekaligus ke satu kawasan. Jarang terjadi.

Hasil yang diharapkan dari pengerahan masif itu belum sepenuhnya terwujud. Iran belum takluk. Houthi masih aktif. Dan satu kapal induk sudah harus pulang setelah hampir setahun berjibaku di lapangan.

Amini Osias, ayah dari teknisi listrik penerbangan di atas Ford, tak menyembunyikan kelegaannya saat berbicara kepada CNN. "Sekarang saya benar-benar bisa santai, bernapas lega, dan kembali ke pola tidur normal," ujarnya. Ia mengaku sempat dilanda cemas, terutama ketika berita kebakaran di atas kapal tersebar, meski Ford dikenal sebagai yang paling mutakhir di armada AS.

Pertanyaannya kini bukan soal kepulangan Ford. Yang tersisa adalah blokade yang masih berjalan, dua kapal induk yang masih di lapangan, dan konflik yang entah kapan menemukan ujungnya.