SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  USS Abraham Lincoln Merapat ke Pattaya, 5.000 Awak...

Internasional

USS Abraham Lincoln Merapat ke Pattaya, 5.000 Awak Kapal Akhirnya Bisa Injak Darat

Setelah lebih dari 200 hari di laut dan terlibat langsung dalam perang AS-Iran, kapal induk USS Abraham Lincoln dijadwalkan singgah di Thailand pada 2-6 September untuk istirahat, di tengah kontroversi kesehatan mental para awaknya.

Kapal USS Abraham Lincoln Disebut Bakal Berlabuh Dekat Indonesia, Ada Apa?

Lebih dari 200 hari di laut tanpa singgah berarti, ribuan pelaut dan Marinir Amerika Serikat akhirnya menginjakkan kaki di daratan, eh, tunggu. Hapus em dash itu.

Lebih dari 200 hari di laut. Ribuan pelaut dan Marinir Amerika Serikat akhirnya bisa menginjakkan kaki di daratan, tepatnya di Pattaya, Thailand, mulai 2 September mendatang.

Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta dua kapal perang pendukungnya dijadwalkan berlabuh di Thailand hingga 6 September, murni untuk istirahat dan rekreasi. Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailand Laksamana Muda Surasant Kongsrit memastikan tidak ada agenda latihan militer bersama selama persinggahan ini. "Abraham Lincoln singgah di Thailand agar ABK bisa turun ke darat dan bersenang-senang," kata Kongsrit dalam jumpa pers di Bangkok, Kamis (27/8/2026).

Angka 200 hari itu bukan sekadar statistik. Sejak bertolak dari San Diego, California, pada 21 November 2025, kapal yang mengangkut sekitar 5.000 pelaut dan Marinir ini hanya sempat mampir sekali di Guam, pertengahan Desember 2025, sebelum langsung diterjunkan ke perairan Teluk Persia. Penugasan yang semula direncanakan enam bulan melebar jadi lebih dari delapan, lantaran perang AS-Iran tak kunjung padam dan armada ini turut terlibat dalam blokade di Selat Hormuz.

Kondisi di atas kapal, agaknya, jauh dari kata nyaman. Pangkalan Centcom di Manama, Bahrain, rusak berat setelah serangan balasan Iran, memaksa pasokan logistik dialihkan dari Diego Garcia di selatan Samudra Hindia. Jalur yang lebih panjang ini berdampak langsung pada ketersediaan barang di kapal. Politisi Partai Demokrat ramai mengkritik kekurangan makanan, air bersih, hingga kerusakan toilet yang memperburuk kondisi awak.

Yang lebih berat: laporan kesehatan mental. Navy Times dan Stars and Stripes melaporkan sejumlah insiden serius, termasuk beberapa awak yang disebut mencoba bunuh diri dengan melompat ke laut akibat tekanan psikologis yang tak tertahankan. Keluarga para ABK turut angkat bicara. Pentagon merespons dengan memberhentikan pimpinan redaksi Stars and Stripes, langkah yang justru memantik lebih banyak pertanyaan ketimbang menjawabnya.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menampik seluruh laporan tersebut. Komandan Satuan Laut Centcom Laksamana Daryl Caudle berkilah bahwa masalahnya bukan soal pangan pokok, melainkan barang-barang pelengkap seperti sarana higiene, minuman energi, dan soda yang tersendak di rantai distribusi. "Sangat wajar ada kritik sejak awal Operasi Epic Fury. Kini kita memperbaiki situasi dan sudah jauh lebih baik," kata Caudle. Klaim yang masih perlu dibuktikan, mengingat Kedubes AS di Bangkok dan Angkatan Laut AS sama sekali tidak menjawab pertanyaan soal rencana persinggahan ini.

Sementara USS Abraham Lincoln ditarik pulang, AS tidak membiarkan Teluk Persia kosong. USS George Washington tiba di kawasan tersebut pada 19 Agustus lalu, bergabung dengan USS George HW Bush yang sudah lebih dahulu beroperasi di sana.

Pilihan Thailand sebagai lokasi persinggahan bukan kebetulan. Negara itu satu-satunya mitra perjanjian pertahanan AS di daratan Asia Tenggara, hubungan yang terjalin sejak 1954 dan dikukuhkan sebagai sekutu utama non-NATO sejak 2003. Pattaya dipilih sebagai kota berlabuh, kawasan pantai yang dikenal sebagai salah satu pusat hiburan dan wisata bahari paling ramai di Asia Tenggara. Buat 5.000 pelaut yang sudah berbulan-bulan terkurung di atas baja mengapung, pilihan itu mungkin terasa seperti jawaban doa.