USD 37,5 miliar, atau sekitar Rp672 triliun, hampir 20 persen APBN Indonesia, meluncur dari mulut Pete Hegseth di hadapan panel Senat Amerika Serikat pada Selasa (21/7/2026) waktu Washington DC. Itulah total biaya perang AS di Iran hingga saat ini, angka yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya dan langsung memantik amarah dua sisi aisle di Capitol Hill.
Sidang yang berlangsung lebih dari tiga jam itu bukan sekadar forum anggaran biasa. Hegseth, yang hadir bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, datang untuk meminta lebih banyak uang sekaligus mempertahankan diri dari gelombang skeptisisme yang kian deras.
Permintaan tambahannya bukan kecil. Partai Republik tengah mendorong paket pendanaan senilai total USD 95 miliar, dengan komponen terbesar USD 60 miliar khusus untuk operasi perang di Iran. Sisanya mencakup USD 12 miliar untuk keamanan nasional, USD 10 miliar untuk bantuan pertanian, dan USD 10 miliar lagi untuk perubahan aturan pemilu. Hegseth menyebut dana tersebut "mendesak dan diperlukan", dengan alasan bahwa anggaran yang disetujui tahun lalu akan habis pada akhir September 2026.
"Tanpa penambahan dana, militer kita akan mengalami kemunduran kritis," tegasnya. Argumentasi yang, agaknya, tidak terlalu meyakinkan di ruang sidang hari itu.
Senator Patty Murray, anggota senior Demokrat di komite militer Senat, langsung merespons keras. Ia memperingatkan bahwa perang ini berpotensi menjadi konflik "abadi" yang hanya menguntungkan industri senjata. "Perang di Iran kembali pecah dan tidak terkendali saat ini," kata Murray. Ia juga menyindir inkonsistensi Trump: presiden berulang kali menjanjikan perang segera usai, tapi kini pemerintah justru datang minta tambahan puluhan miliar dolar.
Paling panas terjadi antara Hegseth dan Senator Gary Peters dari Michigan. Peters menyebut strategi militer AS di Iran sebagai kegagalan besar. Hegseth berbalik menyerang, "Anda dan orang yang menyatakan operasi ini gagal sangat memalukan." Peters tidak kalah cepat: "Andalah sosok orang yang gagal." Peters kemudian menambahkan bahwa masalah utama bukan anggaran, melainkan kepemimpinan. "Anda tidak punya rencana bagaimana perang ini dimenangkan. Tidak ada prajurit AS yang salah. Masalahnya adalah kepemimpinan," ujarnya.
Serangan dari kubu Demokrat datang bertubi-tubi. Senator Jeanne Shaheen mempertanyakan logika permintaan tambahan dana, mengingat Pentagon sendiri belum menggunakan separuh dari alokasi USD 150 miliar yang sudah disetujui Kongres tahun ini. Senator Kirsten Gillibrand menilai klaim keberhasilan Hegseth tidak masuk akal, khususnya soal tujuan utama perang yang diklaim Trump, yakni menghancurkan kapasitas nuklir Iran, yang hingga kini belum tercapai. Senator Jon Ossoff mempertanyakan prakiraan Hegseth sebelum perang pecah yang terbukti meleset jauh, termasuk klaim bahwa Iran sudah menyerah.
Bahkan dari kubu Republik pun muncul ketidaknyamanan. Senator Susan Collins, Ketua Komite Senat dari Partai Republik, membuka sidang dengan menyatakan kekecewaannya terhadap Pentagon yang memblokir promosi jabatan bagi perwira perempuan dan kelompok minoritas. Senator John Kennedy mendesak penjelasan soal Selat Hormuz, di mana Iran berencana menerapkan tarif tol atas jalur pelayaran internasional. Pertanyaan krusial itu dijawab Jenderal Caine dengan menolak menjawab karena dianggap "hipotesis". Kennedy langsung naik pitam: "Kami butuh jawaban tegas."
Di lapangan, kondisi tidak lebih cerah. Tiga prajurit AS lagi dilaporkan tewas menjelang sidang, membawa total korban jiwa dari pihak AS menjadi 17 orang sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Lebih dari 430 personel terluka. Dalam enam hari pertama serbuan AS ke Iran saja, biaya yang terkuras sudah mencapai USD 11,3 miliar. Bak pedang bermata dua, eskalasi ini menelan anggaran sekaligus mempersempit ruang manuver politik Trump di dalam negeri.
Dukungan publik terhadap perang pun terus merosot, setidaknya itu yang ditunjukkan jajak pendapat AP-NORC. Harga bensin melonjak seiring ketegangan di Selat Hormuz, dan basis pendukung Trump sendiri, para petani, kian terpukul oleh dampak perang tarif yang berbalik menghantam mereka.
Ketika Senator Mike Round menanyakan apakah dana tambahan itu akan cukup untuk menyelesaikan perang, Jenderal Caine menjawab jujur: tidak ada kepastian. Jawaban yang, entah kebetulan atau tidak, justru merangkum seluruh masalah hari itu dalam satu kalimat.