MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  UOB: Kelas Atas Sedang Ragu, Bank Tidak Bisa Lagi...

Ekonomi

UOB: Kelas Atas Sedang Ragu, Bank Tidak Bisa Lagi Jual Produk Seragam

Ekonom dan bankir UOB kompak menyuarakan satu pesan dari forum media mereka: pendekatan lama perbankan sudah usang, sementara konsumen kelas atas yang jadi tulang punggung ekonomi justru sedang menahan diri.

UOB: Bank perlu geser fokus dari produk ke kebutuhan nasabah

Dua pesan berbeda keluar dari satu forum yang sama, tapi keduanya saling mengunci. Dari sisi makro, ekonom UOB memperingatkan bahwa kelompok affluent dan emerging affluent, dua segmen yang selama ini jadi mesin konsumsi rumah tangga Indonesia, sedang mengencangkan ikat pinggang. Dari sisi mikro, bankir UOB menyebut perbankan tidak bisa lagi menawarkan produk yang sama kepada semua orang dan berharap urusan beres.

Dua sinyal itu disampaikan dalam UOB Media Editors Circle 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026), bertema Powering Indonesia's Next Engine of Growth. Temanya optimistis. Isi pemaparannya cukup blak-blakan.

ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja menjelaskan bahwa kelompok affluent dan emerging affluent punya peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 2030. Masalahnya, kedua segmen itu sekarang sedang dalam mode waspada: ketidakpastian global yang belum mereda, volatilitas harga minyak mentah, dan tekanan harga pangan membuat mereka memilih pengeluaran secara lebih selektif. "Kalau mereka sedang mengencangkan ikat pinggang, berarti mundur sedikit dong. Jadi pertanyaannya itu sebenarnya, bagaimana kita meningkatkan confidence-nya," kata Enrico. Bukan soal siapa yang salah, tapi bagaimana memulihkan rasa percaya diri mereka.

Rupiah masuk juga dalam daftar kekhawatiran Enrico. Tren pelemahan nilai tukar belakangan ini, menurutnya, bukan sekadar efek global, melainkan cerminan dari kombinasi current account deficit yang melebar, potensi kenaikan suku bunga, dan volatilitas yang belum stabil. Dalam kondisi seperti itu, kepercayaan konsumen kelas atas bisa tergerus lebih dalam dari yang terlihat di angka konsumsi agregat.

Solusinya tidak instan. Enrico menunjuk sektor manufaktur, yang sampai kini masih jauh dari proporsi ideal sebagai tulang punggung ekonomi. Penciptaan lapangan kerja baru dari sektor ini, katanya, bisa jadi salah satu jalan untuk membangun kembali confidence yang sedang melemah. "Confidence konsumen Indonesia harus dibangun, salah satu jalan, sektor manufaktur harus digenjot," tegasnya.

Acting Head of Consumer Banking PT Bank UOB Indonesia Herman Soesetyo berbicara dari sudut berbeda, tapi tidak kalah relevan. Mengutip data BPS September 2024, UOB mencatat ada sekitar 48,4 juta penduduk kelas menengah, 1,3 juta kelompok affluent, dan lebih dari 138 juta kelompok aspiring middle class. Bukan statistik demografis biasa. Ini peta kebutuhan finansial yang makin beragam dan tidak bisa lagi dilayani dengan satu template produk.

Filosofi yang tengah didorong UOB diringkas Herman dalam satu kalimat: "Di UOB kalau dari segi konsumen kita melihat customer itu lebih dari segi kliennya, bukan hanya produknya." Pendekatan lama, di mana bank menyiapkan deretan produk lalu nasabah tinggal memilih, kini dinilai terlalu pasif. Bank, menurutnya, perlu memposisikan diri sebagai trusted financial advisor. Bukan sekadar penyedia rekening dan kartu kredit.

UOB ASEAN Consumer Sentiment Study 2025 menambahkan konteks yang agaknya mengejutkan: tiga dari empat konsumen Indonesia menabung lebih dari 10 persen penghasilan setiap bulan, dengan 34 persen menyisihkan 11 hingga 20 persen dari pendapatan bulanan. Tingkat tabungan setinggi itu justru menjadi sinyal bahwa masyarakat butuh pendampingan untuk mengalokasikan dana secara optimal. Bukan sekadar ditawari produk deposito.

Pergeseran menuju pendekatan client-centric, Herman mengakui, bukan tanpa hambatan. Kapasitas SDM harus ditingkatkan, dibarengi pemanfaatan teknologi, data, dan analitik agar layanan bisa benar-benar dipersonalisasi. Kantor cabang tetap relevan untuk layanan wealth management yang butuh tatap muka, sementara kanal digital terus diperluas untuk kebutuhan transaksi sehari-hari. Dua jalur, satu tujuan.

Kalau dua pesan dari forum ini dibaca bersama, gambarnya cukup jelas: konsumen kelas atas Indonesia punya potensi besar tapi sedang ragu melangkah, dan perbankan yang ingin menjangkau mereka harus datang dengan cara yang lebih cerdas. Bukan lagi soal produk apa yang tersedia, tapi seberapa dalam bank memahami siapa yang duduk di hadapannya.