RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  UNESCO Tambah 14 Cagar Biosfer Baru 2026, Empat di...

Internasional

UNESCO Tambah 14 Cagar Biosfer Baru 2026, Empat di Asia

UNESCO resmi menetapkan 14 kawasan baru ke dalam World Network of Biosphere Reserves, membawa total jaringan global menjadi 797 kawasan di 145 negara. Empat kawasan di Asia masuk daftar, sementara Québec City tercatat sebagai kota pertama di dunia yang meraih status ini.

UNESCO Tetapkan 14 Cagar Biosfer Baru, 4 Ada di Asia

Tepat di peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2026, UNESCO mengumumkan penambahan 14 kawasan baru ke dalam World Network of Biosphere Reserves (WNBR) melalui Program Man and the Biosphere (MAB). Total jaringan kini menjadi 797 titik yang tersebar di 145 negara.

Empat dari 14 kawasan baru itu berada di Asia. Karakteristiknya kontras, bahkan sulit dibandingkan. Tost Toson Bumbiin Nuruu di Mongolia adalah pegunungan gurun yang menjadi habitat macan tutul salju. Matibay na Bayan ng Sablayan di Filipina memadukan kawasan pesisir dan hutan lindung yang masih relatif perawan. Di Timor-Leste, Nino Konis Santana menghadirkan bentang hutan tropis sekaligus ekosistem laut yang kaya. Phong Nha-Ke Bang di Vietnam? Kawasan karst yang sudah lama dikenal dunia, dan kini resmi masuk jaringan global.

Selebihnya tersebar dari Albania hingga Portugal: Shkodër Lake (Albania), Theniet El Had (Aljazair), Aruba Island (Aruba), Great Caucasus (Azerbaijan), Takamanda (Kamerun), Québec City (Kanada), Dalankuh-Qamishlou (Iran), Skadar Lake Watershed (Montenegro), Sur del Alto Paraná (Paraguay), serta Serra da Estrela (Portugal).

Ada beberapa pencapaian yang agaknya luput dari perhatian. Timor-Leste, Montenegro, dan Aruba untuk pertama kalinya memiliki Cagar Biosfer UNESCO. Yang menarik: seluruh wilayah Aruba kini berstatus cagar biosfer, menjadikannya salah satu dari sedikit negara yang seluruh teritorinya berada dalam jaringan WNBR. Québec City pun mencatat preseden tersendiri sebagai kota pertama di dunia yang memperoleh status ini. Bisa jadi pintu bagi kota-kota besar lain untuk menyusul, entah kebetulan atau tidak.

Selain penambahan titik baru, UNESCO juga menyetujui perluasan lima cagar biosfer yang sudah ada di China, Italia, dan Spanyol.

Perlu dipahami, Cagar Biosfer berbeda dari UNESCO Global Geopark yang menitikberatkan warisan geologi. Kawasan ini dinilai berdasarkan nilai ekologis, konservasi keanekaragaman hayati, kapasitas riset ilmiah, dan sejauh mana pembangunan ekonomi lokal bisa berjalan tanpa mengorbankan alam. UNESCO menyebutnya "laboratorium hidup", klaim yang masih perlu terus dibuktikan dalam praktik, tapi setidaknya framingnya sudah benar.

Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany menegaskan bahwa perlindungi alam dan peningkatan kualitas hidup masyarakat bukan dua hal yang saling bertentangan. "Cagar Biosfer membuktikan setiap hari bahwa melindungi alam dan meningkatkan kehidupan manusia dapat berjalan beriringan," demikian pernyataan resmi UNESCO.

Bagi Indonesia, pengumuman ini bukan kabar asing. Hingga pertengahan 2026, Indonesia sudah mengantongi 21 Cagar Biosfer UNESCO, salah satu yang terbanyak di Asia Tenggara. Dari Gunung Leuser di ujung barat Sumatera hingga Raja Ampat di Papua, jaringan ini membentang di hampir seluruh kepulauan, mencakup ekosistem gambut, hutan hujan, terumbu karang, hingga padang savana. Angka yang tidak kecil. Dan patut dijaga.