Sepanjang malam 16-17 Mei, militer Ukraina menggelar operasi drone skala besar yang menyasar industri pertahanan Rusia, termasuk sebuah pabrik mikrochip di pinggiran Moskow yang selama ini jadi tulang punggung produksi senjata presisi musuh.
Target utama operasi itu adalah pabrik Angstrem di Zelenograd, Oblast Moskow. Bukan fasilitas sembarangan. Dinas Keamanan Ukraina (SBU) menyebut pabrik itu komponen kritis kompleks industri militer Rusia, yang memproduksi mikroelektronika, radioelektronika, sistem optik, hingga robotika untuk kebutuhan tempur. "Perusahaan ini merupakan komponen penting dari kompleks industri militer Rusia dan terlibat dalam produksi mikroelektronika, radioelektronika, sistem optik, dan robotika untuk kebutuhan militer musuh," kata SBU dalam pernyataannya. Kebakaran dilaporkan terjadi di area fasilitas pasca-serangan.
Dalam operasi yang sama, stasiun pompa Solnechnogorskaya di Oblast Moskow juga kena. Fasilitas ini bukan sekadar infrastruktur sipil. Jaringan distribusi bahan bakar di sekitar Moskow yang disuplainya juga digunakan untuk kebutuhan logistik militer Rusia. Api kabarnya ikut menyala di lokasi tersebut.
Ukraina mengerahkan beberapa drone buatan dalam negeri: Bars RS-1, Fire Point FP-1, dan Bars-SM Gladiator. Ibarat ujian lapangan sekaligus kampanye penghancuran, serangan turut menyasar pos komando Rusia dan titik operasi drone di Oblast Donetsk, Kharkiv, Kherson, dan Zaporizhzhia, plus pangkalan udara militer Belbek di Krimea.
Operasi ini bukan muncul dari ruang hampa. Zelenskyy sebelumnya mengungkap bahwa Rusia menggunakan sekitar 3.170 drone serang hanya dalam sepekan. Angka yang tidak main-main. Intensitas itu yang memaksa Ukraina mempercepat strategi serangan balik asimetrisnya ke infrastruktur vital di dalam wilayah Rusia sendiri.
Sementara bom dan drone masih berdengung di garis depan, ada mekanisme lain yang terus berputar jauh dari sorotan kamera: repatriasi jenazah. Proses ini sudah berlangsung sejak pertengahan 2025, berdasarkan kesepakatan Istanbul yang ditandatangani 2 Juni. Selama Juni 2025 saja, 6.057 jenazah berhasil dipulangkan ke Ukraina. Setelahnya, penyerahan dilakukan berkala dalam batch sekitar 1.000 jenazah, pada 17 Juli, 19 Agustus, 18 September, 23 Oktober, 20 November, hingga 19 Desember yang mencatat 1.003 jenazah.
Paling anyar, pada 9 April Rusia menyerahkan 1.000 jenazah yang diklaim sebagai prajurit Ukraina, disusul 1.000 jenazah lagi pada 26 Februari 2026. Markas Koordinasi untuk Penanganan Tawanan Perang Ukraina menyatakan penyidik dan tim forensik akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan identitas setiap jenazah. Kalau semua angka itu dijumlah, gambaran yang muncul adalah skala kehilangan yang tak bisa sepenuhnya ditangkap oleh peta pergerakan garis depan.
Perang ini agaknya sudah masuk fase di mana kedua pihak bertempur keras di lapangan sambil menjalankan mekanisme kemanusiaan di meja yang berbeda. Apakah itu tanda kelelahan atau sekadar pragmatisme, entah kebetulan atau tidak, sulit dinilai dari luar.