RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  UEA Tantang Iran di Forum BRICS: Kami Tak Butuh Pe...

Internasional

UEA Tantang Iran di Forum BRICS: Kami Tak Butuh Perlindungan Siapa Pun

Abu Dhabi dengan terang-terangan menolak tuduhan Teheran di pertemuan BRICS New Delhi, mengklaim telah mencegat hampir 3.000 serangan rudal dan drone Iran sejak Februari lalu.

UEA sebut tak butuh perlindungan dari luar - ANTARA News Kalimantan Selatan

Hampir 3.000 rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Itulah angka yang dilontarkan Uni Emirat Arab ketika membantah tuduhan Iran di forum BRICS, New Delhi, Jumat (15/5/2026), sekaligus menjadi argumen paling keras yang pernah dilempar Abu Dhabi ke muka Teheran secara terbuka.

Menteri Negara di Kementerian Luar Negeri UEA, Khalifa Shaheen Al Marar, menolak mentah-mentah klaim Iran bahwa UEA adalah "mitra aktif" dalam agresi AS dan Israel. Bagi Al Marar, framing itu bukan sekadar tidak akurat. Berbahaya. Sebab justru UEA-lah, menurutnya, yang menjadi sasaran serangan berulang tanpa provokasi sejak 28 Februari, tanggal yang ia sebut sebagai awal perang AS-Israel melawan Iran, dengan target fasilitas sipil dan infrastruktur penting termasuk bandara, pelabuhan, dan fasilitas energi.

Satu hari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sudah lebih dulu menembakkan narasi berlawanan. Lewat unggahan di Telegram yang dikutip AFP, Araghchi tanpa tedeng aling-aling menyebut UEA sebagai pihak yang "tidak diragukan" terlibat dalam agresi ini. Ia bahkan mengklaim sudah menasihati perwakilan Abu Dhabi bahwa Israel dan AS tidak akan mampu menjamin keamanan mereka. Pernyataan serupa juga dimuat kantor berita negara Iran, IRNA.

Pertemuan BRICS menjadi arena yang agak ironis: dua anggota blok yang sama kini saling tuding di hadapan seluruh peserta.

Al Marar tidak meladeni dengan diplomasi lunak. "UEA tidak mencari perlindungan dari siapa pun dan mampu mencegah agresi," katanya, pernyataan yang terdengar seperti peringatan sekaligus deklarasi kemandirian. Ia menegaskan UEA memiliki kapasitas penuh, secara hukum, diplomatik, maupun militer, untuk menghadapi setiap ancaman. Tekanan dan tuduhan, lanjutnya, tidak akan menggeser posisi UEA satu milimeter pun. Ia juga menuduh Iran mengganggu jalur maritim di kawasan, termasuk apa yang disebutnya sebagai penutupan efektif Selat Hormuz, dan menyebut penggunaan jalur laut itu sebagai alat tekanan sebagai tindakan pembajakan.

Semua itu, menurut Al Marar, melanggar Piagam PBB, hukum internasional, dan prinsip hubungan bertetangga yang baik.

Konteks lebih luasnya cukup rumit. Ketegangan kawasan Teluk meledak sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang memicu respons balasan Teheran ke Israel dan sekutu-sekutu Washington di Teluk. Gencatan senjata sempat diberlakukan pada 8 April lewat mediasi Pakistan, tapi perundingan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen. Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata itu tanpa batas waktu, keputusan yang agaknya masih meninggalkan banyak bara di bawah permukaan.

Bagi pelaku pasar yang memantau kawasan ini, konflik verbal UEA-Iran di forum sekelas BRICS bukan sekadar ribut diplomatik biasa. Selat Hormuz yang disebut-sebut "tertutup secara efektif" adalah urat nadi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Kalau bara ini tidak segera padam, pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang salah secara protokoler, tapi berapa harga minyak minggu depan.