Lebih dari satu miliar barel minyak sudah amblas dari pasar global sejak Iran menutup Selat Hormuz, dan angka itu terus bertambah sekitar 100 juta barel setiap pekan selat itu masih terkunci. Gangguan terbesar dalam sejarah pasar energi, begitu Al Jaber menyebutnya, dan belum ada tanda-tanda kapan berakhir.
Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) punya satu jawaban jangka menengah: West-East Pipeline, jalur pipa baru yang diam-diam sudah berjalan sebelum krisis ini meledak. CEO ADNOC Sultan Ahmed Al Jaber mengungkapkan proyek itu kini sudah hampir 50% selesai dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027, menggandakan kapasitas ekspor melalui pelabuhan Fujairah di Teluk Oman.
"Saat ini, terlalu banyak energi dunia masih mengalir melalui terlalu sedikit titik hambatan," kata Al Jaber dalam forum Atlantic Council, Rabu (21/5). Pernyataan itu keluar dalam salah satu penampilan publiknya yang paling substansial sejak perang pecah.
Selat Hormuz ditutup Iran setelah serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari, yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Teheran termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sejak saat itu, sekitar 20 persen pasokan minyak global yang biasa melewati jalur tersebut praktis terhenti. Harga energi melonjak, inflasi global merangkak naik, dan kekhawatiran soal perlambatan ekonomi dunia mulai sungguh-sungguh berbunyi.
UEA bukan penonton pasif. Al Jaber mengungkap bahwa infrastruktur sipil negara itu, termasuk fasilitas ADNOC, menjadi sasaran lebih dari 3.000 rudal dan drone. Penilaian kerusakan masih berlangsung, dan pemulihan kapasitas operasional penuh, kata dia, bisa memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan. "UEA diserang karena model pembangunannya," katanya.
Pipa lama ADNOC, Abu Dhabi Crude Oil Pipeline (ADCOP), masih mampu mengalirkan hingga 1,8 juta barel per hari melalui Fujairah. Kapasitas itu sudah dimanfaatkan maksimal, tapi jelas tidak cukup menambal seluruh volume yang hilang akibat penutupan Hormuz. West-East Pipeline hadir sebagai solusi jangka menengah, bukan jangka pendek. Putra Mahkota Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed secara langsung memerintahkan ADNOC mempercepat proyek ini setelah krisis memuncak.
Selesainya pipa pun bukan berarti masalah langsung beres. Al Jaber memperingatkan bahwa bahkan jika perang berakhir besok, arus perdagangan melalui Selat Hormuz kemungkinan baru kembali 80% normal dalam empat bulan, dan pemulihan penuh agaknya baru terjadi di kuartal pertama atau kedua 2027. Kapal-kapal tidak serta-merta berlayar kembali begitu gencatan senjata ditandatangani. "Begitu dunia menerima bahwa satu negara dapat menyandera jalur pelayaran terpenting dunia, maka kebebasan navigasi seperti yang kita kenal akan berakhir," ujarnya.
Menteri Energi AS Chris Wright punya pembacaan tersendiri. Hormuz sudah dimainkan sebagai kartu, kata dia, dan kartu itu hanya bisa dimainkan sekali. Negara-negara Teluk kini berpacu membangun jalur alternatif, dan kepentingan strategis selat tersebut akan menyusut setelah krisis ini usai. "Akan ada jalur lain untuk energi keluar dari Teluk Persia," kata Wright.
Cakupan peringatan Al Jaber jauh melampaui konteks perang ini. Investasi hulu minyak global saat ini sekitar 400 miliar dolar AS per tahun, angka yang, kalau data ini bisa dipercaya, hanya cukup menutup penurunan produksi alami, tidak lebih. Kapasitas cadangan minyak mentah global yang kini berkisar 3 juta barel per hari seharusnya mendekati 5 juta barel per hari. Selisihnya nyata dan, kata Al Jaber, berbahaya.
Pada 1 Mei lalu, UEA resmi hengkang dari OPEC. Al Jaber menyebut keputusan itu "strategis dan berdaulat", didorong oleh kebutuhan energi global yang kian besar, bukan ditujukan kepada pihak mana pun. Lepasnya UEA dari kuota produksi OPEC memberi ruang bagi ADNOC untuk berekspansi lebih agresif, persis ketika proyek pipa baru ini mulai menjanjikan kapasitas tambahan yang tidak kecil.
Bagi investor energi, pertanyaan yang relevan bukan sekadar kapan Hormuz dibuka kembali. Siapa yang paling cepat membangun infrastruktur alternatif, dan siapa yang akan menguasai rute ekspor Teluk Oman ketika jalur baru itu beroperasi, itu yang lebih penting untuk dijawab.