SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Ubisoft Rugi Rp26 Triliun, Pecat 1.200 Orang, tapi...

Tekno

Ubisoft Rugi Rp26 Triliun, Pecat 1.200 Orang, tapi Genjot AI

Di balik kerugian operasional €1,3 miliar dan PHK massal lebih dari 1.200 posisi, Ubisoft justru mempercepat investasi pada proyek generative AI "Teammates" sambil mengonfirmasi game baru dari tiga franchise terbesar mereka.

Ubisoft Is Working On A New Entry In ... - Social

Kerugian operasional €1,3 miliar, atau sekitar Rp26,7 triliun, bukan angka yang bisa disembunyikan di balik bahasa korporat manapun. Itulah yang Ubisoft laporkan dalam laporan keuangan tahun fiskal 2025-2026 mereka, angka yang sekaligus mengonfirmasi bahwa publisher asal Prancis ini memang sedang di titik paling berat dalam sejarah belakangan mereka.

Net booking perusahaan ikut rontok, turun 17,4 persen menjadi hanya €1,53 miliar, sekitar Rp30,8 triliun. Penyebabnya sudah bisa ditebak: minimnya jadwal rilis game baru, penjualan yang meleset dari target, penundaan judul-judul skala besar, dan biaya restrukturisasi yang terus menggelembung. Ubisoft sendiri memproyeksikan tahun ini sebagai titik terendah arus kas mereka, dengan penjualan yang masih berpotensi merosot 8-9 persen lagi.

PHK massal bukan lagi rumor. Laporan FY26 mengonfirmasi bahwa lebih dari 1.200 posisi telah dipangkas hingga 31 Maret 2026, sehingga total headcount perusahaan menyusut lebih dari 1.000 orang dibanding tahun sebelumnya. Ubisoft kini mempekerjakan sekitar 16.590 orang secara global. Yang bikin dahi berkerut: manajemen menegaskan restrukturisasi belum selesai, dan pengurangan biaya akan terus berlanjut setidaknya hingga 2028.

Sejauh ini, efisiensi yang dilakukan diklaim berhasil memangkas biaya tetap sekitar €325 juta, turun 18 persen dibanding tahun fiskal 2023. Target berikutnya adalah menekan basis biaya tetap ke angka €1,25 miliar pada Maret 2028. Untuk itu, perusahaan akan mempertahankan disiplin ketat dalam perekrutan dan tidak menutup kemungkinan menjual sebagian aset.

Tapi di sinilah ironinya. Satu tangan memangkas, tangan satunya justru berinvestasi lebih agresif. Ubisoft mengumumkan percepatan investasi pada proyek generative AI bernama Teammates, yang pertama kali diperkenalkan November 2025 lalu. Proyek ini bukan sekadar gimmick tech demo. Ubisoft memposisikannya sebagai "pengalaman generative AI yang dapat dimainkan," sebuah produk yang bisa berdiri sendiri, bukan hanya alat backend.

Konsepnya cukup ambisius: NPC yang benar-benar bereaksi terhadap tindakan dan ucapan pemain secara real-time, dunia game yang beradaptasi dinamis terhadap perilaku individu, dan kemampuan mengubah pengaturan in-game hanya lewat percakapan. Virginie Mosser, Narrative Director proyek ini, sebelumnya menjelaskan bahwa teknologi ini dirancang agar pemain merasa ikut membentuk cerita, bukan sekadar mengikuti jalur yang sudah disiapkan.

Penerapan AI ini, agaknya, tidak berhenti di gameplay saja. Ubisoft juga menggunakannya untuk memperkuat proses quality control melalui bot yang lebih cerdas, serta mengelola kompleksitas pipeline pengembangan modern yang skalanya terus membesar. Fondasi teknisnya bertumpu pada divisi R&D internal La Forge, yang telah mengerjakan riset machine learning dan sistem AI open-world selama bertahun-tahun. Ditambah suntikan dana €1,1 miliar dari transaksi dengan Tencent, amunisi finansial untuk mendorong ini lebih jauh, setidaknya di atas kertas, terbilang cukup.

Soal game konvensional, laporan FY26 mengonfirmasi sesuatu yang sudah lama dinantikan penggemar: entri baru untuk Assassin's Creed, Far Cry, dan Ghost Recon semuanya dijanjikan hadir sebelum akhir tahun fiskal 2029. Ubisoft menyebut ini fondasi "kebangkitan yang kuat" mulai FY2027. Tapi laporan ini tidak menyebut judul spesifik. Untuk Assassin's Creed, bisa jadi yang dihitung adalah Assassin's Creed: Black Flag Resynced yang sudah dikonfirmasi rilis 9 Juli 2026, bukan game baru sungguhan.

Situasi Assassin's Creed: Hexe masih penuh tanda tanya. Direktur Clint Hocking hengkang dari Ubisoft pada Februari 2026 setelah bertahun-tahun mengerjakan proyek yang pertama kali diungkap pada 2022 itu. Dua bulan berselang, direktur game Benoit Richer juga keluar. Dua direktur pergi dalam jarak berdekatan dari satu proyek. Bukan sinyal yang menenangkan.

Far Cry dan Ghost Recon punya beban tersendiri. Far Cry 6 meninggalkan kesan kurang memuaskan, sementara Ghost Recon Breakpoint tidak pernah pulih dari krisis identitas saat peluncuran. Penggemar kedua seri ini sudah lama menunggu, dan jendela hingga Maret 2029 itu cukup lebar untuk menampung harapan sekaligus kecemasan. Pertanyaannya, apakah Ubisoft punya nyali untuk benar-benar mengubah formula, atau cuma kasih polesan baru?

Satu momentum paling dekat yang bisa jadi barometer: Black Flag Resynced bulan Juli. Bagaimana Ubisoft menangani rilis itu akan banyak bicara soal seberapa serius komitmen kualitas yang mereka gembar-gemborkan, kalau data penjualannya bisa dipercaya.