Rasio temuan uang palsu di Indonesia ambruk ke level terendahnya: hanya 1 lembar per satu juta lembar uang beredar per April 2026. Dari 5 ppm di 2023, angka itu tergerus bertahap ke 4 ppm sepanjang 2024 hingga 2025, lalu jeblok lagi ke 1 ppm hanya dalam empat bulan pertama tahun ini. Agaknya tren ini bukan kebetulan semata.
Bank Indonesia dan Polri menggelar pemusnahan uang rupiah palsu secara resmi, Rabu (13/5/2026). Momen itu sekaligus jadi panggung bagi BI untuk memamerkan deretan pencapaian yang tidak kecil. Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali menyebut pecahan Rp 50.000 tahun emisi 2022 kini bertengger di posisi kedua sebagai mata uang paling sulit dipalsukan di dunia, berdasarkan pemeringkatan World's Most Secure Currencies. Bukan klaim internal semata: pengakuan itu datang dari komunitas internasional lewat penghargaan Best New Banknote Series di ajang IACA Currency Awards 2023.
Apa yang membuat pecahan seri terbaru ini berbeda? Tujuh belas unsur pengaman tertanam di dalamnya. Masif. Salah satu yang paling canggih adalah benang pengaman berbasis teknologi microlenses, dilengkapi corak batik kawung yang mempersulit replikasi. BI juga memperluas sebaran gambar yang hanya terlihat di bawah sinar ultraviolet, lapisan keamanan yang tidak murah untuk ditiru. Pecahan Rp 100.000 emisi 2022 mendapat penguatan serupa.
"Alhamdulillah peningkatan kualitas dari uang rupiah ini dilakukan dan diakui oleh dunia. Tercermin dari penghargaan uang rupiah tahun emisi 2022 yang baru ini sebagai seri uang terbaik," ujar Ricky dalam press statement pemusnahan uang palsu di kantornya. Soal penurunan angka pemalsuan, ia menambahkan bahwa capaian itu tidak lepas dari sinergi antarinstansi, penguatan bahan, teknologi cetak, dan unsur pengamanan yang terus diperbarui.
Kalau laju penurunan ini bertahan sepanjang sisa tahun, angkanya bisa mendekati nol secara statistik sebelum Desember. Klaim yang masih perlu dibuktikan sampai data akhir tahun keluar, tapi arahnya sudah cukup berbicara sendiri. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bisa dijaga?
Yang menarik bukan cuma soal volume. BI menilai kualitas uang palsu yang masih beredar pun relatif rendah, alias mudah dikenali. Sofistikasi pemalsuannya tidak berhasil mengimbangi teknologi cetak BI, setidaknya itu yang tergambar dari data yang ada. Masyarakat tetap diminta aktif menggunakan metode 3D, dilihat, diraba, dan diterawang, sebagai filter pertama sebelum uang berpindah tangan.
Ricky turut mengingatkan prinsip 5 Jangan dalam merawat rupiah: jangan dilipat, dicoret, distapler, diremas, dan dibasahi. Kampanye Cinta, Bangga, Paham Rupiah terus digalakkan bersama Botasupal sebagai garda terdepan edukasi keaslian uang. Buat pelaku pasar, tren ini sinyal positif soal kredibilitas sistem pembayaran domestik, sesuatu yang kerap luput dari radar tapi penting bagi kepercayaan transaksi di tingkat akar rumput.