JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  TV Iran Ajari Warga Isi Peluru, Ancaman Serangan S...

Internasional

TV Iran Ajari Warga Isi Peluru, Ancaman Serangan Susulan Kian Nyata

Di tengah kebuntuan perundingan dan ancaman serangan lanjutan AS-Israel, Iran memperluas latihan militer warga sipil sambil tetangga-tetangganya melaporkan serangan drone dari berbagai penjuru.

Antisipasi Serangan AS-Israel, Iran Latih Warga Pakai Senapan

Layar televisi Iran kini menyiarkan sesuatu yang tidak biasa: instruksi cara mengisi amunisi senapan, step by step, untuk ditonton warga sipil di rumah masing-masing. Bukan siaran darurat sembarang, ini program yang disengaja, diluncurkan setelah pemerintah melonggarkan aturan kepemilikan senjata yang sebelumnya amat ketat.

Latihan penggunaan senjata api digelar di berbagai lokasi di seluruh Iran. Materi serupa disiarkan sejumlah stasiun televisi lokal, menjangkau warga yang tidak sempat hadir langsung. Hukum Iran sebetulnya mengatur kepemilikan pistol dan senapan oleh warga sipil dengan sangat ketat. Sejak gelombang serangan AS-Israel dimulai, izin kepemilikan dipermudah. Pelatihan makin intensif setelah kabar beredar bahwa serangan susulan tengah disiapkan.

Gencatan senjata berlaku sejak 7 April 2026. Enam minggu berlalu. Perundingan AS-Iran masih buntu. AS menuntut Iran membuka blokade Selat Hormuz, menyerahkan cadangan uranium yang sudah diperkaya, melucuti total program nuklir dan rudal termasuk membongkar fasilitas bawah tanah, serta berhenti menyokong kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Iran membalas dengan daftar tuntutannya sendiri: jaminan tidak akan diserang lagi, penghentian semua perang di kawasan yang melibatkan Israel, pencabutan total sanksi yang sudah menghimpit sejak 1979, dan pengakuan atas hak Iran di Selat Hormuz.

Militer AS tetap bergerak di tengah kebuntuan diplomatik itu. Channel 13 Israel melaporkan pesawat-pesawat angkut militer AS terbang dari Jerman ke Israel, membawa amunisi dari gudang senjata di Eropa. Pola yang persis sama terjadi sebelum serangan Iran pada Juni 2025 dan akhir Februari 2026.

"Militer kita terus siaga walau diplomasi tetap berjalan," kata Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran. Pernyataan itu terdengar lebih seperti peringatan daripada sekadar informasi. Dari sisi AS, Trump menulis di media sosialnya, "Bagi Iran, waktu semakin habis dan mereka sebaiknya bergerak cepat, atau tak akan ada yang tersisa dari mereka. Waktu adalah kunci."

Netanyahu tampil di sidang kabinet, tidak kalah tegas. "Mata kita selalu terbuka lebar saat membahas Iran. Kita siap untuk berbagai kemungkinan," ujarnya. Departemen Pertahanan AS dilaporkan telah memaparkan rencana serangan lanjutan dengan sasaran yang sudah spesifik: fasilitas energi, jalan, jembatan, hingga bandara.

Trita Parsi, Wakil Presiden Quincy Institute di AS, membaca situasi ini dengan cukup gamblang. Ia bilang kepada Al Jazeera bahwa Trump amat serius mempertimbangkan opsi militer tambahan, dan itu justru mengisyaratkan bahwa seluruh upaya tekanan selama ini dianggap gagal. Pertanyaannya, kalau serangan memang terjadi, siapa yang paling diuntungkan? Bukan kubu moderat Iran, itu pasti. "Dari perspektif Trump, dia mau menarasikan memenangi perang dan menyangkal versi kemenangan pihak lain," kata Parsi. Framing semacam itu, bagi Iran yang punya kubu garis keras vokal di dalam negeri, agaknya hanya mempersulit ruang kompromi.

Kawasan sekitar ikut bergolak. Arab Saudi melaporkan serangan drone yang diluncurkan dari wilayah Irak. UEA melaporkan tiga pesawat menghantam wilayahnya, dua drone berhasil ditembak jatuh. Yang paling bikin dahi mengerut: kebakaran terjadi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah milik UEA, meski operator dan IAEA memastikan tidak ada korban maupun bahaya radiasi. Dibangun dengan biaya 20 miliar dolar AS, Barakah memasok hingga 25 persen kebutuhan listrik UEA. Ini serangan pertama terhadap fasilitas itu sejak konflik meledak Februari 2026.

Penasihat hubungan luar negeri UEA Anwar Gargash memilih kalimat yang hati-hati. "Serangan tersebut bisa saja dilakukan oleh aktor negara atau melalui kaki tangan mereka untuk memicu eskalasi," katanya. Abu Dhabi tidak menuding Iran secara langsung, tapi konteksnya sudah bicara sendiri. Cukup untuk bikin kawasan Teluk gelisah.

Di balik semua ini ada fakta yang tidak boleh diabaikan. Ketika senapan sudah ada di tangan sipil dan TV nasional mengajarkan cara isi peluru, Iran bukan sedang bersiap untuk parade. Teheran sedang menghitung kemungkinan terburuk, dan kalau data ini bisa dipercaya, hitungannya sudah sangat serius.