SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Trump-Xi Bertemu di Beijing, Wall Street Cetak Rek...

Finansial

Trump-Xi Bertemu di Beijing, Wall Street Cetak Rekor dan Bursa Asia Ikut Bergairah

Pertemuan Trump dan Xi di Beijing mengirim sinyal stabilitas ke pasar global. Wall Street mencetak rekor baru, bursa Asia bersiap mengikuti jejak.

Saham Teknologi AS Melonjak, Bursa Asia Bersiap Menguat - Market

Dua jam lebih sedikit. Segitu waktu yang dibutuhkan Xi Jinping dan Donald Trump di Beijing pada 14-15 Mei 2026 untuk membuat Wall Street bergairah dan kontrak berjangka bursa Asia menghijau di Kamis pagi.

S&P 500 naik 0,6% pada perdagangan Rabu, sementara Nasdaq 100 melonjak 1%, dipimpin sektor teknologi yang memang sedang panas. Nvidia, Tesla, dan Apple ikut dalam rombongan delegasi bisnis Trump ke Beijing, sinyal bahwa ada lebih dari sekadar agenda diplomatik dalam kunjungan itu. Setelah jam bursa tutup, Cisco Systems menambah bahan bakar sentimen positif dengan prospek bisnis yang solid.

Kontrak berjangka untuk Jepang, China, dan Korea Selatan kompak menguat. Pasar agaknya membaca sinyal yang sama: pertemuan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, yang bersama-sama menyumbang sekitar 40 persen PDB global, berjalan tanpa insiden serius. Sudah cukup itu.

Tapi di balik foto-foto karpet merah dan salvo 21 tembakan meriam di Balai Agung Rakyat Beijing, ada pesan yang jauh lebih keras. Xi langsung menembak soal Taiwan. "Masalah Taiwan adalah isu terpenting dalam hubungan China-AS," kata Xi dalam pernyataan yang diterbitkan media pemerintah China tak lama setelah pertemuan. "Jika salah penanganan, kedua negara dapat berbenturan atau bahkan berkonflik, mendorong seluruh hubungan China-AS ke dalam situasi yang sangat berbahaya," tambahnya.

Bahasa blak-blakan sekeras itu, datang langsung dari Xi, bukan delegasi atau jubir. Editor buletin China Neican, Adam Ni, menyebutnya sebagai "hal tidak biasa datang dari pemimpin itu sendiri". Analis dari Universitas Nasional Singapura, Chong Ja Ian, membacanya sebagai sinyal bahwa Beijing melihat ada peluang untuk meyakinkan Trump soal kompromi di isu Taiwan.

Trump sendiri datang dengan pujian. Ia menyebut Xi sebagai "pemimpin hebat" dan "teman", sekaligus mengundangnya ke Gedung Putih pada September. Bukan langkah retorika kecil. Tapi soal Taiwan, Trump memilih bungkam di depan wartawan. Menteri Keuangan Scott Bessent hanya bilang Trump akan berbicara lebih banyak "dalam beberapa hari mendatang". Pasar, bisa jadi, belum benar-benar tahu apa yang sedang dinegosiasikan di balik layar.

Konteksnya memang berat. Perang tarif antara dua negara telah menghajar volume perdagangan bilateral sekitar 25 persen, meski nominalnya masih melampaui 400 miliar dolar AS tahun lalu. Rantai pasok global terganggu, biaya produksi melonjak, dan persaingan teknologi, termasuk di kecerdasan buatan, kian sengit. Pertemuan ini juga berlangsung saat situasi di Iran mengguncang stabilitas energi global, krisis yang, entah kebetulan atau tidak, memaksa kedua rival besar ini duduk di meja yang sama.

Xi mengajukan pertanyaan retoris yang tidak ringan: bisakah AS dan China melampaui "Perangkap Thucydides", teori sarjana Harvard Graham Allison yang menggambarkan kecenderungan perang saat kekuatan baru mengancam menggantikan kekuatan lama? "Mencapai kebangkitan besar bangsa China dan menjadikan Amerika hebat kembali dapat berjalan beriringan," kata Xi, dengan sengaja menyentil diksi MAGA Trump. Bak gayung bersambut, tapi taruhannya bukan sekadar kata-kata.

Dari pasar obligasi, penjualan surat utang AS tenor 30 tahun senilai 25 miliar dolar menarik minat investor dengan yield menyentuh 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Angka yang patut dicermati, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin ekspektasi: suku bunga tetap tinggi lebih lama, meski untuk sementara kekhawatiran inflasi tertutup euforia geopolitik.

Pertanyaannya, berapa lama euforia ini bertahan? Bagi investor di Jakarta, pesan singkatnya: selama dialog Washington-Beijing mengalir, selama itulah risk appetite global terjaga. Taiwan tetap sumbu pendek yang belum dicabut.