Senin lalu, Donald Trump mengeluarkan tuntutan yang membuat banyak pihak di Timur Tengah menahan napas: Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Mesir, Turki, dan Jordania diminta segera menandatangani Abraham Accords sebagai syarat dari kesepakatan besar pascaperang AS-Israel melawan Iran. Bukan sekadar ajakan diplomatik biasa. Ini lebih seperti ultimatum yang dibungkus dalam unggahan di Truth Social.
"Setelah semua kerja yang dilakukan Amerika Serikat untuk menyatukan teka-teki yang sangat rumit ini, seharusnya wajib bagi semua negara ini menandatangani Abraham Accords," tulis Trump. Ia bahkan menunjuk Arab Saudi dan Qatar sebagai yang harus memulai, dengan nada yang tidak banyak menyisakan ruang untuk negosiasi. Siapa yang tidak ikut, kata Trump, berarti menunjukkan "niat yang buruk".
Teheran tidak butuh waktu lama untuk merespons. Mojtaba Khamenei menyiarkan pernyataan keras melalui televisi pemerintah sehari setelahnya. Israel, katanya, "mendekati tahap akhir keberadaan mereka yang menyedihkan," dan negara-negara kawasan tidak akan lagi berfungsi sebagai tameng bagi pangkalan-pangkalan AS. Retorika yang familiar, tapi waktunya jelas bukan kebetulan.
Konteks ini penting untuk dipahami. AS baru saja melancarkan serangan ke lokasi peluncuran roket dan kapal Iran yang disebut sedang menebar ranjau di Selat Hormuz, di tengah gencatan senjata yang katanya masih berjalan. Centcom menyebutnya tindakan defensif. Sementara Menlu Marco Rubio justru memberi sinyal positif bahwa kesepakatan damai mungkin tinggal hitungan hari, dengan menyebut adanya pembicaraan aktif di Qatar. Dua narasi yang berjalan beriringan tapi saling bertabrakan.
Lalu bagaimana nasib negara-negara yang sudah lebih dulu menandatangani? Abraham Accords pertama kali diteken di Washington pada September 2020, dengan Bahrain dan Uni Emirat Arab sebagai penandatangan perdana, disusul Maroko, Sudan, dan belakangan Kazakhstan. Enam tahun berselang, hasilnya tidak seragam.
UEA jelas pemenang terbesar. Total perdagangan kumulatif Israel-UEA melampaui 6,4 miliar dolar AS hingga 2024, melejit dari hanya 1,2 miliar dolar AS pada 2021. Investasi mengalir ke startup teknologi Israel di sektor AI, keamanan siber, dan fintech. Bahkan ketika perang Gaza memuncak, perdagangan Israel-UEA di paruh pertama 2024 masih tumbuh 7 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka yang patut dicermati, mengingat tekanan publik yang luar biasa terhadap normalisasi.
Maroko mendapat hadiah berbeda tapi tidak kalah berharga: pengakuan AS atas kedaulatan Maroko di Sahara Barat, wilayah sengketa yang selama puluhan tahun jadi isu sentral politik luar negeri Rabat. Sudan, yang bergabung dalam kondisi ekonomi yang sangat tertekan, memperoleh penghapusan dari daftar negara pendukung terorisme versi AS. Sayangnya, manfaat itu belum sempat dirasakan sebelum perang saudara kembali mengguncang negara itu.
"Banyak negara Arab kini lebih fokus pada upaya bertahan hidup dan menstabilkan ekonomi ketimbang solidaritas ideologis pan-Arab seperti dulu," tulis Maha Yahya dari Carnegie Endowment dalam Foreign Affairs, Februari 2025. Pergeseran pragmatis ini juga terbaca dari data ekspor pertahanan Israel, yang mencapai rekor 14,8 miliar dolar AS pada 2024. Sekitar 12 persen pasarnya kini adalah negara-negara penandatangan Abraham Accords, naik drastis dari hanya 3 persen setahun sebelumnya.
Tapi di balik angka-angka itu ada realitas yang tidak bisa diabaikan. 87 persen. Itulah proporsi rakyat Arab yang masih menolak normalisasi dengan Israel, menurut Survei Indeks Opini Arab 2025. Kritik semakin keras setelah perang Gaza. Banyak yang mempertanyakan bagaimana negara-negara Arab bisa mempertahankan hubungan dengan Tel Aviv ketika Gaza terus terbakar.
Apakah tekanan Trump kali ini akan berhasil? Arab Saudi, dengan bobot geopolitik dan ekonominya yang jauh lebih besar dari Bahrain atau Maroko, adalah kunci. Riyadh selama ini konsisten mensyaratkan kemajuan nyata bagi negara Palestina sebelum bersedia melangkah. Belum ada sinyal bahwa posisi itu berubah, setidaknya itu yang terlihat dari permukaan. Dengan ancaman Khamenei yang masih menggema, agaknya garis finish kesepakatan besar yang dibayangkan Trump itu masih jauh, jauh sekali.