KTT NATO di Ankara pekan ini berubah jadi panggung penumpahan unek-unek Donald Trump yang lumayan panjang, menyasar beberapa sekutu Eropa sekaligus dalam satu sesi di hadapan wartawan.
Sebelum bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Kompleks Kepresidenan pada Selasa (7/7), Trump sudah pasang muka masam. Italia, Prancis, dan Jerman ia sebut langsung sebagai negara-negara yang mengecewakan Washington. "Lalu mengapa kita menghabiskan ratusan ribu dolar, dan mereka tidak datang membantu kita?" tanya Trump, dengan nada yang agaknya lebih dari sekadar retorika.
Akar kekesalannya cukup spesifik: sejumlah negara Eropa dilaporkan menolak mengerahkan kapal perang untuk mendukung operasi AS menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz, seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran. Bagi Trump, ini bukan cuma soal militer. Ini soal prinsip. AS selama ini menanggung beban perlindungan Eropa dari ancaman Rusia, tapi ketika Washington butuh dukungan menghadapi apa yang ia sebut sebagai "negara sponsor utama terorisme", para sekutu memilih diam.
Keesokan harinya, usai bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menjelang sesi utama KTT pada Rabu (8/7), amarah itu belum juga reda. "Saya sangat kesal dengan NATO," ujar Trump kepada wartawan. "Saya tidak senang dengan NATO karena tindakan mereka terkait Greenland, dan saya tidak senang dengan NATO karena fakta bahwa mereka tidak mau membantu kita menghadapi negara sponsor utama terorisme, yaitu Iran," cetusnya. Dua keluhan sekaligus, dalam satu tarikan napas.
Spanyol mendapat porsi paling keras. Trump menyebut negara itu "mitra yang sangat buruk di NATO" dan, tanpa basa-basi, meminta Menteri Keuangan Scott Bessent yang berdiri di sampingnya untuk menghentikan seluruh perdagangan dengan Madrid. "Spanyol adalah kasus yang sia-sia. Kita tidak ingin lagi melakukan bisnis perdagangan apa pun dengan Spanyol," tegasnya. Ancaman dagang dari panggung KTT NATO. Bukan main.
Soal Greenland, Trump belum juga lepas dari obsesinya. Wilayah Denmark itu ia sebut "sangat penting bagi Amerika Serikat, namun tidak penting bagi Denmark", dan ia berargumen bahwa kepemilikan Greenland dibutuhkan "demi perlindungan dunia". Rutte mencoba meredam dengan menegaskan bahwa AS dan Denmark akan tetap berunding soal kemungkinan peningkatan kehadiran militer AS di Arktik. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, dari sisinya, kembali menegaskan Greenland "tidak untuk dijual".
Erdogan tampil dengan nada berbeda. Dalam pertemuan bilateral, presiden Turki itu menyatakan Ankara terus mendorong stabilisasi hubungan antara Iran dan AS lewat jalur diplomatik. Posisi Turki memang strategis: tuan rumah KTT, anggota NATO, tapi hubungannya dengan Iran dan Rusia jauh lebih kompleks dibanding sekutu Eropa manapun.
Pecahnya kohesi internal NATO dalam urusan Timur Tengah ini sebetulnya bukan rahasia. Bagi negara-negara Eropa, Selat Hormuz bukan hanya soal geopolitik, tapi soal energi. Keterlibatan langsung di sana berisiko memperluas konflik dan mengancam jalur pasokan yang menghidupi industri mereka. Kalkulasi itu, entah kebetulan atau tidak, bertabrakan langsung dengan impatience Trump yang sudah berjalan cukup lama.
AS, klaim Trump, menanggung beban yang "tidak proporsional" di NATO. "Kami telah diperlakukan secara tidak adil," sebut Trump. Para sekutu Eropa datang ke Ankara dengan harapan bisa meredam amarah itu, antara lain dengan menunjukkan komitmen peningkatan anggaran pertahanan. Apakah itu cukup? Trump pulang dari Ankara dengan daftar keluhan yang tampaknya justru bertambah panjang.