KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Trump Tolak Proposal Iran, Cadangan Minyak Dunia d...

Finansial

Trump Tolak Proposal Iran, Cadangan Minyak Dunia di Level Terendah Sejak 2018

Penolakan Trump atas proposal damai Iran membakar harga minyak global, sementara cadangan dunia sudah menyusut ke level terendah sejak 2018 akibat penutupan Selat Hormuz.

Trump Tolak Proposal Damai Iran, Harga Minyak Mendidih

Harga minyak kembali membara setelah Donald Trump menegaskan penolakannya atas proposal balasan Iran. "Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut 'perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya, SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!" tulis Trump melalui platformnya, Senin (11/5/2026). Pasar energi langsung merespons.

Bukan respons yang kecil.

Perang AS-Israel melawan Iran sejak beberapa pekan terakhir telah memukul rantai pasokan energi global dari hulunya langsung: Selat Hormuz, jalur laut yang menanggung sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, terganggu akibat penutupan yang terjadi. Data Bloomberg menunjukkan cadangan minyak global menyusut sekitar 4,8 juta barel per hari dalam rentang 1 Maret hingga 25 April, mendorong stok global menuju level terendah sejak 2018.

Delapan tahun. Itulah jarak yang kini harus dibandingkan.

Sejumlah eksekutif energi yang berbicara kepada Bloomberg agaknya sepakat bahwa tren ini belum akan berbalik arah dalam waktu dekat. Bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali sekalipun, produksi dan distribusi di seluruh kawasan Teluk diperkirakan tidak akan pulih dengan cepat. Infrastruktur logistik energi bukan saklar yang bisa dinyalakan ulang begitu saja.

PM Israel Benjamin Netanyahu ikut menyiram bensin ke api. Pernyataannya bahwa konflik dengan Iran belum usai datang hampir bersamaan dengan sinyal dari Washington. Dua suara, satu arah, dan pasar minyak membaca keduanya dengan sangat serius.

Bagi konsumen energi besar, tekanan kini datang dari dua sisi: stok yang menipis sekaligus harga yang merangkak naik. Negara-negara importir, termasuk yang bergantung pada pasokan Teluk, terpaksa lebih dalam mengandalkan cadangan strategis nasional masing-masing. Cadangan yang, entah kebetulan atau tidak, juga tidak tak terbatas.

Lonjakan harga minyak bisa memperburuk inflasi di negara-negara yang baru saja mulai bernapas pasca tekanan suku bunga tinggi. Di sisi lain, penipisan cadangan global yang drastis membuka risiko volatilitas ekstrem bahkan setelah konflik mereda, karena proses pengisian kembali stok butuh waktu dan stabilitas, dua hal yang kini justru langka.

Sampai ada sinyal konkret dari meja perundingan, bisa jadi harga minyak belum ketemu langit-nya.